Kamis, 16 Juli 2015

Hakikat Lebaran

Sebentar lagi umat muslim akan merayakan lebaran (Idul Fitri) hal ini di tandai dengan berakhirnya bulan ramadhan dan di awali dengan di kumandangkannya takbir. Namun masih banyak diantara kita yang salah kaprah dalam mengartikan lebaran dan terlewatkan sebagai rutinitas. Lebaran bukanlah milik orang yang berbaju baru, melainkan milik orang-orang yang berhasil meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Sehingga hari-hari selanjutnya akan menjadi lebih baik, semakin taat kepada Allah, mudah memaafkan dan meminta maaf. Sebagian ulama’ ada yang mengartikan bahwa hakikat lebaran bukanlah yang selalu kita rayakan di bulan syawal ini. Menurut Imam Ghazali menggolongkan hakikat lebaran menjadi 4 kategori, yaitu :
  1. Orang dikatakakan benar – benar berlebaran apabila dalam satu hari orang tersebut tercatat tidak pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Hal ini tentunya sulit akan tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk bisa dilakukan. Jika seseorang tersebut tinggi tingkat ketaqwaannya kepada Allah, maka kemungkinan kecil orang tersebut akan melakukan dosa, karena orang yang takut Allah takut pula jika melakukan perbuatan yang dilarang Allah meskipun perbuatan tersebut sepele. Misal menggunjing, berprasangka buruk dan lain sebagainya.
  2. Orang akan dikatakan benar – benar berlebaran jika ketika orang tersebut meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Hal tersebut tentunya akan bisa terjadi jika dalam setiap saat yang dilakukan orang tersebut hanyalah kebaikan. Sehingga ketika ajal menjemput dalam kondisi melakukan kebaikan.
  3. Orang akan dikatakan benar benar berlebaran jika kelak bisa melewati jembatan sirothol mustaqim seperti petir yang menyambar dan masuk surga. Hal tersebut tentunya juga berkaitan dengan amal yg dilakukan orang tersebut ketika masih di dunia.
  4. Kategori yg ke empat merupakan puncaknya nikmat yaitu orang akan dikatakan benar – benar berlebaran jika kelak masuk surga dan ketemu dengan Allah. Hal tersebut bisa di ibaratkan jikalau kita bertamu ke rumah seseorang dan ketemu dengan tuan rumahnya, maka tingkat kebahagiaan yang dirasakan tentunya berbeda dengan kalau tidak ketemu dengan tuan rumahnya.
Inilah 4 kategori hakikat lebaran yang mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, mudah-mudahan kita semua bisa berlebaran setiap hari dengan berada di salah satu kategori di atas. Aamiin. (Abd)

Satu Kegiatan Bermanfaat Berkali-Kali

Menjelang  Ramadhan seperti  tahun tahun yang lalu, Pengurus Panti Asuhan, Bimbingan Muallaf dan Rumah Tahfidz RIyaadlul Jannah menggelar kegiatan bazaar pakaian layak pakai.
Pakaian-pakaian yang dibazarkan  digalang dari pakaian yang dikumpulkan para donator, para orang tua murid TK dan SD Hj Isriati dan donator lain. Untuk Ramadhan  tahun ini dimulai tanggal 22 Juni 2015 di depan Toko atau Sekretariat Panti Asuhan Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Simpang lima.
Para pembeli bazaar biasanya para tukang becak, pemulung dan siapa saja yang berminat. Pakaian Layak Pakai yang dibazarkan biasanya meskipun pakaian bekas, tapi masih bagus-bagus dan modis, dijual dengan harga murah murah dan murah sekali sehingga sesuai tujuan bazaar adalah bias membantu orang-orang yang tidak mampu beli pakaian baru tapi bisa mendapatkan pakaian bagus untuk lebaran.
Hasil dari penjualan pakaian bekas layak pakai itu seluruhnya dipergunakan untuk member hadiah lebaran para tukang becak sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Para penjaga Sandal/sepatu,  Tukang  sapu  dan beberapa pegawai atau pesuruh Masjid  Raya Baiturrahman.

Inilah yang dinamakan Satu kegiatan bermanfaat berkali kali, karena bila ada orang yang bersodakoh dengan memberikan pakaian bekas layak pakai ke Riyaadlul Jannah,  dari segi agama sudah dapat pahala karena bisa member manfaat bagi orang lain, manfaat kedua pakai yang diterima Pengurus Panti dikumpulin, disortir dan dijual dengan harga murah, ini juga member manfaat bagi orang lain karena membantu orang yang tidak mampu bisa mendapatkan pakaian bagus dengan harga murah, manfaat selanjutnya hasil penjualan pakaian bekas dibagikan lagi ke para duafa untuk hadiah lebarran ini juga berpahala.  (trus)


Minggu, 17 Mei 2015

Wisata ke WBL & Goa Maharani : Sarana Penambah Wawasan bagi Anak

Untuk menambah wawasan dan pengalaman sekaligus refreshing bagi anak asuh, panti asuhan dan rumah tahfidz Riyaadlul Jannah menyelenggarakan program karya wisata. Program ini rutin diselenggarakan rutin setiap tahun. Dan tahun ini kami mengadakan karya wisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Acara yang dilakasanakan pada tanggal 14 Mei 2015 ini diikuti oleh anak-anak asuh, pengasuh, pengurus dan beberapa konsultan. Dalam pelaksaannya anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu pendamping untuk mempermudah koordinasi, controlling dan melatih kepedulian sesama saudaranya.

Disana kami mengunjungi beberapa wahana wisata diantaranya Goa Maharani dan Wisata Bahari Lamongan. Destinasi pertama, Goa Maharani terdapat aneka ilmu pengetahuan mengenai satwa-satwa yang tidak hanya dari Indonesia saja melainkan juga dari mancanegara seperti unta. Selain itu juga terdapat keindahan alam berupa goa yang di dalamnya terdapat beberapa jenis bebatuan
dan peninggalan bersejarah.

Selanjutnya di wahana permainan WBL, dimana terdapat beraneka ragam permainan. Mulai permainan yang ringan sampai permainan yang dapat memacu adrenalin. Masing-masing permainan terdapat tujuan yang berbeda, ada yang melatih akurasi, ketangkasan, keberanian, kelincahan, kerja sama dan lain sebagainya. Anak-anak bebas memilih beragam permainan yang ada, dengan harapan mereka dapat mengambil pelajaran dari permainan yang mereka ikuti.
Acara selesai ba'da Ashar, persiapan packing untuk pulang menuju Semarang. Dengan adanya program ini diharapkan dapat merefresh dan menambah wawasan/pengalaman bagi anak-anak.

Jumat, 24 April 2015

Shalat, Saat Makanan Telah Dihidangkan

Shalat hendaklah dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan dengan hati yang sepenuhnya hadir menghadap Rabb-nya. Syariat Islam yang mulia pun menganjurkan untuk menghilangkan semua sebab yang dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat kita, di antaranya adalah adanya nafsu dan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Sehingga hati dan pikiran kita pun disibukkan dengannya ketika mendirikan shalat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan yang sudah terhidangkan meskipun shalat hampir ditegakkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ
“Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)
Sebagian orang salah sangka dengan hadits di atas. Mereka menyangka bahwa kalau mendahulukan makanan, maka hal ini berarti kita lebih mendahulukan hak makhluk di atas hak Allah Ta’ala. Padahal hakikatnya, jika seseorang mendahulukan shalat dibandingkan makanan, maka hatinya akan disibukkan untuk memikirkan makanan ketika sedang shalat, sehingga berakibat mengurangi kesempurnaan shalatnya di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan demi menjaga hak Allah Ta’ala ketika shalat. [1]
Yang menjadi permasalahan adalah apakah hadits di atas bisa diamalkan secara mutlak, artinya kita mendahulukan menyantap makanan dalam semua kondisi? Terdapat beberapa persyaratan yang disebutkan oleh para ulama sehingga kita bisa mengamalkan hadits di atas.
  1. Ketika seseorang memang membutuhkan untuk makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika tidak dalam kondisi lapar, maka tetap mendahulukan shalat.
  2. Jika waktu shalat masih longgar. Sehingga ketika seseorang makan minum terlebih dahulu, dia masih bisa melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila waktu shalat hampir habis, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah mengerjakan shalat pada waktunya, dalam kondisi apa pun. Karena anjuran (untuk meningkatkan ke-khusyu’-an) tidaklah dapat menggugurkan kewajiban (melaksanakan shalat pada waktunya).
  3. Seseorang tidak bersengaja menjadikan waktu makan dan minum bertepatan dengan waktu shalat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, di antara kebiasaan generasi awal dahulu adalah menyantap makan malam sebelum waktu shalat maghrib tiba atau di akhir waktu shalat ashar.
  4. Makanan yang ada mungkin bisa dikonsumsi secara syar’i ataupun secara realita. Secara syar’i misalnya orang tersebut tidak sedang berpuasa wajib, seperti puasa Ramadhan. Jika tiba waktu ashar dan makanan untuk berbuka puasa sudah siap, maka tidak boleh menunda shalat ashar demi menunggu makan. Karena secara syar’i memang belum waktunya berbuka puasa, meskipun perut mungkin sudah sangat lapar. Demikian juga secara realita, misalnya makanan masih sangat panas dan perlu menunggu beberapa saat untuk bisa disantap, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah melaksanakan shalat. Juga misalnya makanan itu bukan miliknya, dan dia tidak diperbolehkan untuk menyantapnya karena sebab tertentu.
  5. Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak. Oleh karena itu, ketika makanan belum siap disantap, maka tetap mendahulukan shalat, meskipun dia dalam kondisi lapar. Karena sibuknya hati seseorang untuk memikirkan makanan yang sudah siap disantap itu lebih besar daripada jika makanan belum siap disantap. [2, 3].
Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.
***
Penulis: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Lihat Syarh ‘Umdatul Ahkaam, 1/131.
[2] Lihat Taisiirul ‘Allaam, hal. 71.
[3] Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikraam, 1/480-483; 1/511-518.
Referensi:
  • Fathu Dzil Jalali wal Ikraam bi Syarhi Buluughil Maraam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Madarul Wathon Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1434.
  • Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Dr. Sa’ad bin Naashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri, Kunuuz Isbiliya Riyadh KSA, cetakan pertama, tahun 1429.
  • Taisiirul ‘Allaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Bassaam, Maktabah Al-Asadiyyah Makkah KSA, cetakan pertama, tahun 1433.
Artikel Muslim.Or.Id

Minggu, 29 Maret 2015

Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki

Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa perbuatan dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya dan ketakwaan dapat melancarkannya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-‘Ankabuut: 45)
Tafsir Ringkas
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an),” Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kepada kita untuk membaca wahyunya, yaitu Al-Qur’an. Arti dari membacanya adalah mengikuti semua yang terkandung di dalamnya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berjalan di atas petunjuk-Nya, membenarkan seluruh pengabaran-Nya, merenungi makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan membaca lafaz-lafaznya.
Maksud dari penyebutan “bacalah” dalam ayat ini hanyalah penyebutan sebagian makna untuk mewakili makna yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa arti perkataan “bacalah” adalah menjalankan agama seluruhnya. Sehingga perintah berikutnya, yaitu “dan dirikanlah shalat!”hanyalah penyebutan sebagian hal dari keumuman perintah untuk menjalankan seluruh agama.
Di dalam ayat ini terdapat perintah khusus untuk mengerjakan shalat, karena shalat memiliki banyak keutamaan, kemuliaan dan akibat-akibat yang sangat indah, di antaranya (disebutkan pada ayat ini) “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Al-Fahsyaa’ (perbuatan-perbuatan keji) artinya seluruh dosa yang dianggap besar dan sangat buruk dan jiwa terpancing untuk melakukannya. Al-Munkar adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah manusia. Mengapa shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Ini dikarenakan seorang hamba jika mengerjakannya dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syarat shalat serta memperhatikan ke-khusyuu’-annya, maka hal tersebut dapat menerangi dan membersihkan hatinya, menambah keimanannya, semakin kuat keinginannya untuk berbuat baik dan semakin sedikit atau bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan keburukan.
Oleh karena itu, dengan selalu mengerjakan dan menjaga shalat dengan sifat yang telah disebutkan, shalat akan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang keji dan mungkar. Dan ini termasuk tujuan dan hasil dari shalat. Dzikir di dalam shalat mencakup dzikir di dalam hati, lisan dan badan. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepadanya. Dan ibadah yang paling afdhal yang dilakukan oleh manusia adalah shalat. Di dalam shalat terdapat ibadah dengan menggunakan seluruh tubuh, yang tidak terdapat pada ibadah selainnya. Oleh karena itu, Allah subhaanahu wa ta’aala mengatakan, “Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar”
“Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan,” baik hal-hal yang baik maupun yang buruk. Allah subhaanahu wa ta’aala akan membalas dengan balasan yang sesuai.1

Penjabaran Ayat

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan hamba-Nya untuk mengerjakan shalat. Shalat memiliki berbagai macam manfaat. Di antara manfaatshalat adalah seseorang akan terhalangi untuk mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu bahwasanya dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ، فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ. قَالَ: (( إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ.))
“Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya si Fulan shalat di malam hari, tetapi di waktu pagi dia mencuri.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalatnya tersebut akan menahan dirinya untuk melakukan seperti yang engkau katakan.’.”2
Ibnu Mas’uud dan Ibnu ‘Abbas radhiallaahu ‘anhumaa berkata:
في الصلاة منتهى ومزدجر عن معاصي الله، فمن لم تأمره صلاته بالمعروف، ولم تنهه عن المنكر، لم يزدد بصلاته من الله إلا بعدًا.
“Di dalam shalat terdapat sesuatu yang dapat menahan dan mencegah seseorang dari mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah. Barang siapa yang shalatnya tidak menyuruhnya untuk melakukan perbuatan ma’ruuf (yang baik) dan tidak melarangnya dari perbuatan mungkar, maka dia hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah dengan shalat tersebut.
Al-Qatadah dan Al-Hasan rahimahumallaah berkata:
من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر فصلاته وبال عليه
“Barang siapa yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan fahsyaa’ dan mungkar, maka shalatnya tersebut menjadi perusak dirinya.”3
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan
Perkataan Allah “dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” ditafsirkan dengan berbagai macam tafsir berikut:4
  1. Mengingat Allah lebih besar pengaruhnya untuk menahan seseorang dari melakukan perbuatan keji dan mungkar daripada shalat, karena shalat memang dapat mencegah seseorang untuk melakukan kemungkaran di dalam shalat, tetapi ketika di luar shalat pengaruhnya lebih kecil. Sedangkan ber-dzikir kepada Allah bisa menjadi pelindung darinya dari melakukan perbuatan mungkar setiap saat.Ber-dzikir kepada Allah termasuk amalan yang paling afdhal. Di dalam riwayat Abud-Darda’ radhiallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya:
    (( أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَرْضَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَمِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ )) قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (( ذِكْرُ اللَّهِ.))
    “Maukah saya kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dari amalan-amalan kalian, lebih di-ridha-i oleh Pemilik kalian, lebih meningggikan kalian dari derajat-derajat kalian, lebih baik daripada memberikan emas dan perak, serta lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, kalian penggal kepala-kepala mereka kemudian mereka memenggal kepala kalian?” Mereka pun berkata, “Apakah itu, ya Rasulullah!” Beliau berkata, “Dzikir kepada Allah.”
  2. “Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya Dzikir Allah (di hadapan para malaikatkepada hamba-hambanya) lebih besar (daripada dzikir hamba kepada Allah). Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhaanahu wa ta’aala berkata:
    مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ مِنَ النَّاسِ ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ.
    “Barang siapa yang mengingatku di dalam dirinya maka aku akan mengingatnya di dalam diriku. Barang siapa yang mengingatku di sekelompok orang, maka Aku akan mengingatnya di sekelompok (makhluk) yang lebih banyak dan lebih baik dari itu.”5‘Abdullah bin Rabi’ah rahimahullaah berkata, “Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui tafsir dari perkataan Allah ta’aalaa (وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ )?’ Saya pun mengatakan, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Apa tafsirnya?’ Saya menjawab, ‘Dia adalah bertasbih, bertahmid dan bertakbir di dalam shalat, begitu pula membaca Al-Qur’an dan yang sejenisnya.’ Beliau berkata, ‘Engkau telah mengatakan sesuatu perkataan yang mengherankan. Artinya tidak seperti itu, tetapi yang benar adalah Allah mengingat kalian ketika Allah memerintahkan dan melarang di saat kalian mengingatnya, lebih besar daripada ingat kalian kepada-Nya.
  1. “Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) adalah lebih besar (daripada mengingatnya di selain shalat). Hal ini sebagaimana terdapat pada ayat:
    {فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ}
    “Bersegeralah menuju dzikir (mengingat) Allah.” (QS Al-Jumu’ah: 9)
    Arti dzikir dalam ayat ini adalah shalat Jumat. Begitu pula dengan ayat dalam surat Al-‘Ankabuut ini, arti dzikir dalam ayat ini adalah shalat.

Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar

Shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana disebutkan di dalam ayat ini. Begitu pula seperti apa yang dialami oleh Nabi Syu’aib ‘alaihissalaam. Kaum Nabi Su’aib ‘alaihissalaam mencela Nabi Syu’aib dengan mengatakan:
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ
“Mereka berkata, ‘Ya Syu’aib apakah shalatmu yang memerintahkan kepadamu agar kami meninggalkan apa-apa yang bapak-bapak kami ibadahi atau kami melakukan pada harta-harta kami apapun yang kami inginkan.” (QS. Huud: 87).
Nabi Syu’aib ‘alaihissalaam terkenal dengan kerajinannya dalam mengerjakan shalat, sehingga kaumnya pun terheran-heran ketika mereka disuruh untuk meninggalkan kesyirikan dan meninggalkan perbuatan haram mereka dalam mencari harta. Ini menunjukkan bahwa shalat berpengaruh terhadap ketaatan seseorang kepada Allah dan dapat menahan dirinya untuk mencari harta dari jalan yang diharamkan.

Shalat yang seperti apa yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?

Abul-‘Aliyah rahimahullaah mengatakan:
إن الصلاة فيها ثلاث خصال فكل صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة: الإخلاص والخشية وذكر الله. فالإخلاص يأمره بالمعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر القرآن يأمره وينهاه.
“Sesungguhnya di dalam shalat terdapat tiga hal. Setiap shalat yang tidak terdapat satu hal saja dari ketiga hal ini maka dia bukanlah shalat, yaitu: keikhlasan, rasa takut dan mengingat Allah. Keikhlasan akan menyuruhnya untuk berbuat kema’ruufan, ketakutannya kepada Allah akan melarangnya dari perbuatan mungkar dan dzikir-nya dengan membaca Al-Qur’an akan menyuruh dan melarangnya.”
Ibnu ‘Aun Al-Anshari rahimahullaah berkata:
إذا كنت في صلاة فأنت في معروف، وقد حجزتك عن الفحشاء والمنكر.
“Apabila engkau sedang shalat, maka engkau berada di dalam hal yang ma’ruf (baik). Engkau telah menahan dirimu dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.”6
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi hafidzhahullaah berkata, “Di dalam shalat hal pertama yang dilakukan adalah mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, kemudian hal kedua adalah menjaga kebersihan hati dari memalingkan ibadah kepada selain Rabb (Allah) ta’aalaa ketika mengerjakannya. Kemudian mengerjakan shalat pada waktu-waktunya di masjid-masjid, rumah Allah, dan bersama jamaah kaum muslimin, hamba-hamba Allah dan wali-walinya. Kemudian memperhatikan rukun-rukunnya, di antaranya: membaca Al-Fatihah, ruku’ serta ber-thuma’ninah di dalamnya, bangkit dariruku’ serta ber-thuma’ninah di dalamnya, kemudian sujud di atas dahi dan hidung serta ber-thuma’ninah di dalamnya dan rukun terakhirnya adalahkhusyuu’, yaitu ketenangan, kelembutan hati dan meneteskan air mata. Shalat yang seperti inilah yang memunculkan cahaya energi yang dapat menghalangi seseorang dari menceburkan dirinya ke dalam syahwat dan dosa, serta mendatangi perbuatan keji dan mengerjakan perbuatan mungkar.”7

Pengaruh dosa pada rezeki seorang hamba

Dosa yang dilakukan oleh seseorang dapat berpengaruh terhadap rezeki yang Allah berikan kepadanya. Allah menahan rezeki orang-orang yang berbuat maksiat. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS Al-A’raf : 96)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ (66)
“Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Ma-idah: 65-66)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (3)
“(2) Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)
Ayat-ayat di atas menunjukkan kaitan yang besar antara rezeki seseorang dengan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berbuat maksiat kepada Allah bukanlah orang yang bertakwa kepada-Nya.

Menjaga shalat dapat melancarkan rezeki seseorang

Orang yang meninggalkan shalat telah melakukan dosa yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan atau kekafiran adalah meninggalkan shalat.”8
Orang yang meninggalkan shalat bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah. Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan kaitan yang erat antarashalat dan rezeki seseorang di dalam ayat berikut, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131) وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (132)
“(131) Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (132) Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 131-132).
Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa orang yang mengerjakan shalat kemudian memiliki kesabaran yang kuat ketika mengerjakannya, maka dia akan diberikan rezeki oleh Allah tanpa bersusah payah mencarinya. Dan ini adalah ganjaran bagi orang yang bertakwa kepada Allahsubhanahu wa ta’ala.
Di dalam kisah Nabi Syu’aib ‘alaihissalaam, Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan perkataan Nabi Syu’aib setelah kaumnya memahami bahwashalatlah yang menahan diri beliau untuk melakukan perbuatan mungkar:
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا
“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)?” (QS Huud: 88).
Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menjelaskan kepada mereka bahwa dengan shalat dan penjelasan yang nyata dari Rabb-nya, maka Allah memberikan kepadanya rezeki yang baik dan halal. Berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Mereka sibuk mencari harta-harta haram.
Akan tetapi, sebagian orang tidak mempercayai adanya kaitan yang erat antara shalat dengan rezeki seseorang. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalaam:
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ
“Wahai Syu’aib! Kami tidak paham banyak hal dari apa yang kamu katakan.” (QS Huud: 91).
Hal ini dikarenakan terikatnya hati-hati mereka dengan dunia lebih besar daripada keterikatan mereka dengan shalat.

Bertaubat dari meninggalkan shalat

Orang-orang yang belum bisa mengerjakan shalat lima waktu sudah sepantasnya bertaubat kepada Allah dengan segera. Sesungguhnya Allahsubhaanahu wa ta’aala Maha Mengampuni hamba-hambanya yang bertaubat kepada-Nya.
Di antara hal-hal yang dapat meleburkan dosa adalah mengerjakan shalat lima waktu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhubahwasnya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ ؟ قَالُوا : لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا.
“Bagaimana menurut kalian jika di depan pintu seorang di antara kalian terdapat sungai yang setiap hari dia mandi di dalamnya. Apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat menjawab, “Tidak tersisa kotoran sedikit pun di tubuhnya.” Beliau berkata, “Seperti itulah shalat lima waktu, Allah bisa menghapuskan dosa-dosa dengannya.”
Allah subhaanahu wa ta’aala menjanjikan rezeki yang berlimpah untuk orang-orang yang mau bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allahsubhaanahu wa ta’aala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“(10) Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, (11). Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (12) Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuuh: 10-12)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Shalat dan Dzikir kepada Allah dapat menahan seseorang dari mengerjakan pekerjaan keji dan mungkar.
  2. Shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang terpenuhi di dalamnya: rukun-rukun shalat, keikhlasan, kekusyu’an, ketakutan kepada Allah dan dzikir kepada Allah.
  3. Perbuatan dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya dan ketakwaan dapat melancarkannya.
  4. Shalat sangat berpengaruh kepada ketakwaan seseorang dan dapat menjadi sebab dibukakannya pintu rezeki yang halal dan baik.
  5. Shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa seseorang yang telah lalu.
***
Daftar Pustaka
  1. Aisarut-Tafaasiir li kalaam ‘Aliyil-Kabiir. Jabir bin Musa Al-Jazairi. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Uluum wal-hikam
  2. Al-‘Ibaadaatu Asbaabun Tahmii minal-Mashaa-ib wa Tarfa’uhaa Bi-idznillah. Dr. Munirah Al-Muthlaq. Majallah Al-Buhuuts Al-Islaamiyah vol. 94. http://www.alifta.net.
  3. Al-Jaami’ Li Ahkaamil-Qur’aan. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
  4. Asbaabul-Barakah fir-Rizqi. Khuthbatul-Jum’ah li Asy-Syaikh Abdul-‘Aziz Ali Asy-Syaikh. www.sahab.net.
  5. At-Tahriir wa At-Tanwiir. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sahnuun.
  6. Ma’aalimut-tanziil. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.
  7. Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
  8. Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
  9. Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.
Catatan kaki
1 Tafsiir As-Sa’di hal. 632.
2 HR Ahmad no. 9778. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Isnad-nya shahiih rijaal-nya tsiqaat, rijaal Asy-Syaikhain.”
3 Lihat kedua atsar ini di dalam Tafsiir Ibni Katsiir VI/244.
4 Lihat Tafsiir Al-Qurthubi XIII/349, Tafsir Ibni Katsiir VI/283, At-Tahriir wa At-Tanwiir XX/179-180, Tafsiir As-Sa’di dan Aisarut-Tafaasiir III/209.
5 HR Ahmad no. 8650. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Shahiih.”
6 Lihat kedua atsar tersebut di dalam Tafsiir Ibni Katsiir VI/282.
7 Aisarut-Tafaasiir III/209.
8 HR Muslim no. 82/246.
—
Penulis: Ust. Sa’id Yai Ardiansyah, Lc., MA.
Artikel Muslim.Or.Id

Ceramah Dari Konsultan Bidang Kesehatan Ibu dr. Hj. Nahwa Arkhaesi, M,Si, Med, Sp.A Di LKSA Riyaadlul Jannah

Ahad, 10 Desember 2023 pengurus dan pengasuh LKSA Riyaadlul Jannah mengadakan pertemuan bulanan yang sudah lama berhenti. Kegiatan tersebu...