Minggu, 27 September 2015

Peringatan Hari Anak Nasional Kota Semarang 2015

Peringatan hari anak nasional tahun ini dilaksanakan hari Minggu, 27 September 2015 di Taman Margasatwa Semarang. Acara diselenggarakan oleh Lembaga Kordinasi Panti Asuhan (LKPA) kota Semarang bekerjasama dengan Dinsospora kota Semarang. Acara yang mengangkat tema "Menuju Anak Indonesia Hebat" ini terdiri dari serangkaian kegiatan, diantaranya pelepasan balon impian, penampilan anak-anak berkebutuhan khusus (tuna netra, tuna rungu), anak jalanan, dan lomba-lomba yang diikuti anak-anak di kota Semarang.
Untuk jenis lomba bergam, diantaranya permainan tradisional (bakiak, gobak sodor), wawasan sejarah kebudayaan Jawa Tengah, tarian tradisional dan group musik lagu tradisional. Acara berjalan seru, masing-masing delegasi panti asuhan memberikan dukungan pada teman-temannya. Tak ketinggalan anak-anak Riyaadlul Jannah juga ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan lomba, dimana untuk group musik menampilan lagu daerah yang diiringi perkusi dari barang-barang bekas.




Selain itu juga ada pembagian doorprise yang semakin menambah seru acara. Harapannya dengan adanya peringatan hari anak nasional ini dapat memberi motivasi kepada anak-anak Indonesia untuk selalu optimis akan masa depan dan selalu berkarya untuk bangsa.

Kegiatan Idul Adha di Riyaadlul Jannah

Sebagaimana kita ketahui setiap hari raya Idul Adha umat Islam di belahan dunia melaksanakan shalat ied. Hari raya yang identik dengan hari raya Qurban ini jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah 1436 H. Begitu juga kegiatan di Riyaadlul Jannah, shalat Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 24 September 2015 di masjid Ali Usman. Adapun imam dan khatib dipimpin oleh ustadz Asmuni Al Hafidz.
Namun waktu pelaksanaan penyembelihan hewan pada tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penyembelihan dilakukan pada tanggal 11 Dzulhijjah 2015 dengan hewan qurban 1 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Dengan dibantu panitia dan warga Jaten, alhamdulillah penyembelihan, pemotongan hingga pembagian hewan qurban berjalan dengan lancar. sekitar 100 bungkus hewan qurban dibagikan ke warga sekitar. Setelah semua selesai diakhiri dengan makan bersama. (MTr)

Kamis, 17 September 2015

Nabi Ibrahim Sebagai Teladan (Renungan Idul Adha)

Hari raya ‘Idul Adha merupakan hari raya bagi umat Islam selain hari raya ‘Idul Fitri. Hari dimana umat Islam yang berada di Masjidil Haram melaksanakan ibadah haji. Hari dimana berbagi kebahagiaan di antara kaum muslimin. Dan yang paling berkesan adalah saat penyembelihan hewan kurban. Umat islam bergotong royong, saling membantu satu sama lain. Hal ini terlihat ketika penyembelihan dimulai hingga pembagian daging hasil sembelihan.
Jika kita telisik lebih dalam, sejarah penyembelihan kurban itu sendiri berasal dari kisah Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail ‘alaihimash shalatu wa sallam. Jika kita mau mengambil pelajaran, banyak sekali keteladanan yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan(patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah).” (QS. An-Nahl: 120)

Sebagai Teladan

Nabi Ibrahim disebut dengan Abul Anbiya (bapaknya para Nabi). Tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim kecuali semuanya berasal dari keturunan Beliau. Nabi Ibrahim disebut juga seorang Imam karena beliau menjadi teladan bagi kita semua. Sebagaimana yang AllahTa’ala firmankan di surat Al-Furqan ayat 74,
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami sebagai Imam (pemimpin) bagi orang yang bertakwa.”
Para ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud “imam” pada ayat di atas adalah dijadikan sebagai teladan bagi orang-orang yang hidup sesudahnya.

Patuh kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang patuh. Dimana ia mendahulukan perintah Allah dengan cara mantaati-Nya. Siapa yang tidak kenal dengan kisah Beliau yang meninggalkan istrinya (Hajar) dan putranya (Nabi Ismail), di tanah yang gersang tanpa meninggalkan bekal apa pun. Hal ini menunjukkan bahwa rasa cinta Beliau kepada Allah melebihi rasa cintanya terhadap istri dan anaknya. Padahal kita tahu bahwa istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14).
Nabi Ibrahim juga melaksanakan perintah Allah, bahkan mendapat dukungan dari anaknya sendiri, tatkala Allah perintahkan Beliau untuk menyembelih anaknya sendiri, yaitu Nabi Ismail. Padahal Beliau telah lama merindukan untuk memiliki buah hati.
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ اْلسَعْىَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى اْلمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar””. (QS. Ash Shaffat: 102)

Orang Yang Hanif

Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. Jadi sudah sepantasnya dan seharusnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar ini.

Bukanlah Seorang Musyrik

Nabi Ibrahim bukanlah termasuk orang yang menyekutukan Allah. Bahkan beliau secara tegas mendakwahkan tauhid. Ada anggapan keliru bahwa Nabi Ibrahim pernah bingung terhadap Rabb-nya. Ayat ini membantah bahwa Beliau tidaklah pernah sama sekali menyekutukan Allah. Namun kita lihat praktik umat Islam jaman sekarang, masih banyak di antara umat Islam yang melakukan amalan menuju kesyirikan, bahkan telah mencapai derajat kesyirikan itu sendiri. Padahal kesyirikan adalah dosa yang tak terampuni dan pelakunya akan kekal di dalam neraka jika pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal.

Penutup

Sungguh ayat yang telah disebutkan di atas menunjukkan keteladanan seorang Nabi Ibrahim. Kita sebagai umat Islam yang mengaku beriman kepada Beliau, hendaknya menjadikan Beliau sebagai teladan kita. Oleh karena itu, sepatutnya bagi kita mencontoh Beliau, karena Beliau adalah Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah Ta’ala. Jika kita hendak dicintai oleh Allah Ta’ala, maka contohlah Nabi Ibrahim. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallahu Muwaffiq.
***
Penulis: Wiwit Hardi P./muslim.or.id

Kamis, 16 Juli 2015

Hakikat Lebaran

Sebentar lagi umat muslim akan merayakan lebaran (Idul Fitri) hal ini di tandai dengan berakhirnya bulan ramadhan dan di awali dengan di kumandangkannya takbir. Namun masih banyak diantara kita yang salah kaprah dalam mengartikan lebaran dan terlewatkan sebagai rutinitas. Lebaran bukanlah milik orang yang berbaju baru, melainkan milik orang-orang yang berhasil meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Sehingga hari-hari selanjutnya akan menjadi lebih baik, semakin taat kepada Allah, mudah memaafkan dan meminta maaf. Sebagian ulama’ ada yang mengartikan bahwa hakikat lebaran bukanlah yang selalu kita rayakan di bulan syawal ini. Menurut Imam Ghazali menggolongkan hakikat lebaran menjadi 4 kategori, yaitu :
  1. Orang dikatakakan benar – benar berlebaran apabila dalam satu hari orang tersebut tercatat tidak pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Hal ini tentunya sulit akan tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk bisa dilakukan. Jika seseorang tersebut tinggi tingkat ketaqwaannya kepada Allah, maka kemungkinan kecil orang tersebut akan melakukan dosa, karena orang yang takut Allah takut pula jika melakukan perbuatan yang dilarang Allah meskipun perbuatan tersebut sepele. Misal menggunjing, berprasangka buruk dan lain sebagainya.
  2. Orang akan dikatakan benar – benar berlebaran jika ketika orang tersebut meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Hal tersebut tentunya akan bisa terjadi jika dalam setiap saat yang dilakukan orang tersebut hanyalah kebaikan. Sehingga ketika ajal menjemput dalam kondisi melakukan kebaikan.
  3. Orang akan dikatakan benar benar berlebaran jika kelak bisa melewati jembatan sirothol mustaqim seperti petir yang menyambar dan masuk surga. Hal tersebut tentunya juga berkaitan dengan amal yg dilakukan orang tersebut ketika masih di dunia.
  4. Kategori yg ke empat merupakan puncaknya nikmat yaitu orang akan dikatakan benar – benar berlebaran jika kelak masuk surga dan ketemu dengan Allah. Hal tersebut bisa di ibaratkan jikalau kita bertamu ke rumah seseorang dan ketemu dengan tuan rumahnya, maka tingkat kebahagiaan yang dirasakan tentunya berbeda dengan kalau tidak ketemu dengan tuan rumahnya.
Inilah 4 kategori hakikat lebaran yang mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, mudah-mudahan kita semua bisa berlebaran setiap hari dengan berada di salah satu kategori di atas. Aamiin. (Abd)

Satu Kegiatan Bermanfaat Berkali-Kali

Menjelang  Ramadhan seperti  tahun tahun yang lalu, Pengurus Panti Asuhan, Bimbingan Muallaf dan Rumah Tahfidz RIyaadlul Jannah menggelar kegiatan bazaar pakaian layak pakai.
Pakaian-pakaian yang dibazarkan  digalang dari pakaian yang dikumpulkan para donator, para orang tua murid TK dan SD Hj Isriati dan donator lain. Untuk Ramadhan  tahun ini dimulai tanggal 22 Juni 2015 di depan Toko atau Sekretariat Panti Asuhan Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Simpang lima.
Para pembeli bazaar biasanya para tukang becak, pemulung dan siapa saja yang berminat. Pakaian Layak Pakai yang dibazarkan biasanya meskipun pakaian bekas, tapi masih bagus-bagus dan modis, dijual dengan harga murah murah dan murah sekali sehingga sesuai tujuan bazaar adalah bias membantu orang-orang yang tidak mampu beli pakaian baru tapi bisa mendapatkan pakaian bagus untuk lebaran.
Hasil dari penjualan pakaian bekas layak pakai itu seluruhnya dipergunakan untuk member hadiah lebaran para tukang becak sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Para penjaga Sandal/sepatu,  Tukang  sapu  dan beberapa pegawai atau pesuruh Masjid  Raya Baiturrahman.

Inilah yang dinamakan Satu kegiatan bermanfaat berkali kali, karena bila ada orang yang bersodakoh dengan memberikan pakaian bekas layak pakai ke Riyaadlul Jannah,  dari segi agama sudah dapat pahala karena bisa member manfaat bagi orang lain, manfaat kedua pakai yang diterima Pengurus Panti dikumpulin, disortir dan dijual dengan harga murah, ini juga member manfaat bagi orang lain karena membantu orang yang tidak mampu bisa mendapatkan pakaian bagus dengan harga murah, manfaat selanjutnya hasil penjualan pakaian bekas dibagikan lagi ke para duafa untuk hadiah lebarran ini juga berpahala.  (trus)


Minggu, 17 Mei 2015

Wisata ke WBL & Goa Maharani : Sarana Penambah Wawasan bagi Anak

Untuk menambah wawasan dan pengalaman sekaligus refreshing bagi anak asuh, panti asuhan dan rumah tahfidz Riyaadlul Jannah menyelenggarakan program karya wisata. Program ini rutin diselenggarakan rutin setiap tahun. Dan tahun ini kami mengadakan karya wisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Acara yang dilakasanakan pada tanggal 14 Mei 2015 ini diikuti oleh anak-anak asuh, pengasuh, pengurus dan beberapa konsultan. Dalam pelaksaannya anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu pendamping untuk mempermudah koordinasi, controlling dan melatih kepedulian sesama saudaranya.

Disana kami mengunjungi beberapa wahana wisata diantaranya Goa Maharani dan Wisata Bahari Lamongan. Destinasi pertama, Goa Maharani terdapat aneka ilmu pengetahuan mengenai satwa-satwa yang tidak hanya dari Indonesia saja melainkan juga dari mancanegara seperti unta. Selain itu juga terdapat keindahan alam berupa goa yang di dalamnya terdapat beberapa jenis bebatuan
dan peninggalan bersejarah.

Selanjutnya di wahana permainan WBL, dimana terdapat beraneka ragam permainan. Mulai permainan yang ringan sampai permainan yang dapat memacu adrenalin. Masing-masing permainan terdapat tujuan yang berbeda, ada yang melatih akurasi, ketangkasan, keberanian, kelincahan, kerja sama dan lain sebagainya. Anak-anak bebas memilih beragam permainan yang ada, dengan harapan mereka dapat mengambil pelajaran dari permainan yang mereka ikuti.
Acara selesai ba'da Ashar, persiapan packing untuk pulang menuju Semarang. Dengan adanya program ini diharapkan dapat merefresh dan menambah wawasan/pengalaman bagi anak-anak.

Jumat, 24 April 2015

Shalat, Saat Makanan Telah Dihidangkan

Shalat hendaklah dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan dengan hati yang sepenuhnya hadir menghadap Rabb-nya. Syariat Islam yang mulia pun menganjurkan untuk menghilangkan semua sebab yang dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat kita, di antaranya adalah adanya nafsu dan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Sehingga hati dan pikiran kita pun disibukkan dengannya ketika mendirikan shalat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan yang sudah terhidangkan meskipun shalat hampir ditegakkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ
“Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)
Sebagian orang salah sangka dengan hadits di atas. Mereka menyangka bahwa kalau mendahulukan makanan, maka hal ini berarti kita lebih mendahulukan hak makhluk di atas hak Allah Ta’ala. Padahal hakikatnya, jika seseorang mendahulukan shalat dibandingkan makanan, maka hatinya akan disibukkan untuk memikirkan makanan ketika sedang shalat, sehingga berakibat mengurangi kesempurnaan shalatnya di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan demi menjaga hak Allah Ta’ala ketika shalat. [1]
Yang menjadi permasalahan adalah apakah hadits di atas bisa diamalkan secara mutlak, artinya kita mendahulukan menyantap makanan dalam semua kondisi? Terdapat beberapa persyaratan yang disebutkan oleh para ulama sehingga kita bisa mengamalkan hadits di atas.
  1. Ketika seseorang memang membutuhkan untuk makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika tidak dalam kondisi lapar, maka tetap mendahulukan shalat.
  2. Jika waktu shalat masih longgar. Sehingga ketika seseorang makan minum terlebih dahulu, dia masih bisa melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila waktu shalat hampir habis, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah mengerjakan shalat pada waktunya, dalam kondisi apa pun. Karena anjuran (untuk meningkatkan ke-khusyu’-an) tidaklah dapat menggugurkan kewajiban (melaksanakan shalat pada waktunya).
  3. Seseorang tidak bersengaja menjadikan waktu makan dan minum bertepatan dengan waktu shalat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, di antara kebiasaan generasi awal dahulu adalah menyantap makan malam sebelum waktu shalat maghrib tiba atau di akhir waktu shalat ashar.
  4. Makanan yang ada mungkin bisa dikonsumsi secara syar’i ataupun secara realita. Secara syar’i misalnya orang tersebut tidak sedang berpuasa wajib, seperti puasa Ramadhan. Jika tiba waktu ashar dan makanan untuk berbuka puasa sudah siap, maka tidak boleh menunda shalat ashar demi menunggu makan. Karena secara syar’i memang belum waktunya berbuka puasa, meskipun perut mungkin sudah sangat lapar. Demikian juga secara realita, misalnya makanan masih sangat panas dan perlu menunggu beberapa saat untuk bisa disantap, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah melaksanakan shalat. Juga misalnya makanan itu bukan miliknya, dan dia tidak diperbolehkan untuk menyantapnya karena sebab tertentu.
  5. Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak. Oleh karena itu, ketika makanan belum siap disantap, maka tetap mendahulukan shalat, meskipun dia dalam kondisi lapar. Karena sibuknya hati seseorang untuk memikirkan makanan yang sudah siap disantap itu lebih besar daripada jika makanan belum siap disantap. [2, 3].
Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.
***
Penulis: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Lihat Syarh ‘Umdatul Ahkaam, 1/131.
[2] Lihat Taisiirul ‘Allaam, hal. 71.
[3] Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikraam, 1/480-483; 1/511-518.
Referensi:
  • Fathu Dzil Jalali wal Ikraam bi Syarhi Buluughil Maraam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Madarul Wathon Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1434.
  • Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Dr. Sa’ad bin Naashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri, Kunuuz Isbiliya Riyadh KSA, cetakan pertama, tahun 1429.
  • Taisiirul ‘Allaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Bassaam, Maktabah Al-Asadiyyah Makkah KSA, cetakan pertama, tahun 1433.
Artikel Muslim.Or.Id

Ceramah Dari Konsultan Bidang Kesehatan Ibu dr. Hj. Nahwa Arkhaesi, M,Si, Med, Sp.A Di LKSA Riyaadlul Jannah

Ahad, 10 Desember 2023 pengurus dan pengasuh LKSA Riyaadlul Jannah mengadakan pertemuan bulanan yang sudah lama berhenti. Kegiatan tersebu...