Jumat, 16 Januari 2015

Bahasa Arab adalah Bahasa Penghuni Surga ?

Sering kita mendengar bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab akan tetapi hadistnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan sandaran, tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tentang masalah ini.
Terdapat hadits berikut:
Pertama: Disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
أحبوا العرب لثلاث لأني عربي ، والقرآن عربي ، وكلام أهل الجنة عربي
“Cintailah kalian bangsa Arab itu karena tiga perkara, (1) karena aku berbangsa Arab, (2) Al-Quran itu diturunkan di dalam bahasa Arab, (3) dan percakapan penghuni suurga itu bahasa Arab.” (Riwayat Att Thabrani di dalam Al-Ausath, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman)
Kedua: Disebutkan riwayat dari Jabir,
عَن جابر : أن النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : إذا ذلت العرب ذل الإسلام.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wassalam bersabda, “Jika terhina bangsa Arab, maka akan terhinalah agama Islam.”
Tetapi sayangnya, para ulama’ hadits menghukumi hadits ini palsu!
  • Di dalam kitab ‘Ilalul Hadits oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi ketika beliau bertanya pada bapaknya tentang status hadits tersebut, beliau telah mendengar bapaknya berkata, “Hadits ini hadits yang dusta.” (‘Ilalul Hadith oleh Ibnu Abi Hatim, hadits bernomorr 2641, juz  2, hal. 376)
  • Dan di dalam kitab Al-Fawaidul Maudhu’ah fil Ahaditsil Maudhu’ah oleh Mar’i bin Yusuf mengatakan baawa hadits ini sangat dhaif ( Al-Fawaidul Maudhu’ah fil Ahaditsil Maudhu’ah, juz 1, hal 141, hadits no. 202)
  • Berkata Imam Adz Dzahbi bahwa beliau merasakan hadits ini palsu, begitu juga Ibnu Hibban yang sependapat dengan beliau. (Asnal Mathalib fi Ahaditsa Mukhtalifatil Maratib oleh Muhammad ibnu Darwisy Al-Huut, juz 1, hal 41)
  • Syaikh Nashiruddin Al Albani mengatakan bahawa hadits ini juga palsu (Shahihun wad Dhaiful Jami’ Ash Shaghir, bab 1186, juz  4, hal 208)
  • Di dalam kitab Majma’uz Zawaid wa Manba’ul Fawaid oleh Al-Haitsami mengatakan bahwa di dalam hadits ini terdapatnya seorang perawi yang bernama Al-‘Alak Ibn ‘Amr Al-Hanafi yang mana kata beliau telah bersepakatnya para ulama’ hadits akan kedhaifannya (juz 10, hal 25)
  • Dan berkata Al-‘Aqiliy bahwa hadits ini munkar dan tiada asalnya ( Al-Aliul Masnu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, juz 1, hal 404)
Imam Ibnu Taimiyah berkomentar tentang hadits ini:
Berkata Al-Hafiz As-Salafi, “Bahwa hadits ini hasan,” dan tidaklah aku tahu apakah beliau bermaksud hasan dari segi sanadnya yang mengikut pemahaman para ahli hadits ataukah bermaksud hasan dari segi matannya (teksnya) yang mengikut istilah ilmu hadits yang umum.
Dan Ibnu Al-Jauzi telah meletakkan hadith ini di dalam Al-Maudhu’aat-nya dan telah berkata : Berkata Ats-Tsa’labi, “Hadith ini tiada asalnya.” Dan berkata pula Ibnu Hibban, “Di dalam hadits ini seorang perawi yang bernama Yahya bin Zaid telah meriwayatkan hadits ini secara terbalik, maka batallah hadits ini untuk dijadikan sebagai hujjah,. Wallahu a’lam. (Iqtidha’us Shiratil Mustaqim. juz  1, hal 158)
Dalam Majmu’ul Fatawa, juz 4, hal 299, ia ditanya:
“Beliau telah ditanya tentang bahasa apakah yang akan dipertuturkan oleh manusia di hari kiamat kelak? Apakah mereka akan bertutur di dalam bahasa Arab? Dan apakah benar ada yang mengatakan bahwa bahasa ahli neraka adalah bahasa Persia dan bahasa ahli surga pula ialah bahasa Arab??
Ia menjawab:
“Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam. Sesungguhnya tidaklah dapat diketahui tentang bahasa apakah yang akan digunakan oleh manusia pada hari itu ,dan juga tiadanya sembarang bahasa yang bisa dipahami oleh manusia dari utusan Allah kelak, karena Allah tidak menyatakan langsung tentang perkara demikian kepada kita. Begitu juga baginda Nabi tidak memberitahu kita tentang perkara tersebut.
Dan tidaklah benar bahwa bahasa ahli neraka kelak ialah bahasa Persia, begitu juga bahasa Arab merupakan bahasa ahli surga yang abadi. Bahkan kita tidak mengetahui pun terdapatnya khabar tentang perselisihan para sahabat tentang hal itu. Bahkan mereka tidak mencampuri urusan tersebut sama sekali, tetapi telah terjadinya khilaf (perselisihan pendapat) di kalangan para ulama’ zaman ini. Ada yang berkata mereka akan bercakap bahasa Arab kecuali ahli neraka karena mereka akan bercakap di dalam bahasa Persia. Ada juga yang berkata bahawa mereka akan bercakap-cakap dengan bahasa Suryani karena ia adalah bahasa Nabi Adam alaihis salam dan kesemua bahasa yang ada pada hari ini  bersumberkan dari bahasa tersebut.
Ktahuilah bahawa kesemua pendapat ini adalah tidak boleh dijadikan hujjah langsung karena ia tidak bersumber daripada jalan naqal (Al-Quran dan As-Sunnah). juga jalan aqal bahkan kesemuanya ini tidak didasari langsung dengan dalil-dalil dariAllah Subhanahu Wa Taala. Wallahu a’lam.”
Oleh itu jelaslah bahwa yang mengatakan bahwa bahasa Arab ialah bahasa surga adalah batal dan tertolak karena kata-kata tersebut bersumberkan dari sebuah hadits yang dihukumi oleh para ulama’ hadits sebagai hadits palsu.
www.fimadani.com

Umar bin Khattab : Cerdas Mengelola Keberanian

   Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraisy. Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu, mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di tanah suci. Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan Quraisy pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.
   Kegelisahan itu tak terbendung lagi saat Umar bin Khattab mendeklarasikan niatnya untuk berhijrah.  Pemuda pemberani itu membawa pedang yang siap dihunuskan setiap saat, lalu shalat dan thawaf sejenak di Baitullah, sementara seluruh mata Quraisy tajam tertuju pada sosok tinggi besar itu. Usai thawaf, Umar naik ke atas bukit memandang sekeliling dengan pandangan yang teguh nan angkuh. Ia berseru lantang menciutkan hati kafir Quraisy. Ucapannya yang begitu tegas terpampang dalam sejarah orang-orang pemberani: “Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim, maka temui aku dibalik bukit ini!!! “.  Ucapan yang tajam bak pedang terhunus. Menginjak-injak kesombongan dan harga diri kafir Quraisy. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka, bahwa sosok Umar kini benar-benar menantang keberanian mereka.
Pemuda itu tidak sedang bercanda dengan ucapannya. Ia tidak menantang dengan sembarang ucapan. Ia tidak memberi peluang kemenangan. Ia tidak menantang pada posisi lemah bahkan tidak pula seimbang. Ia menantang dalam posisi kemenangan! Karenanya ia memilih kalimat yang tajam: “Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim ….. “. Habis sudah kesombongan yang sempat terpatri dalam barisan Quraisy. Mereka bagaikan kerbau dicocok hidung. Tak ada respon, tak ada kemarahan. Bahkan wajah mereka pun seolah tertunduk kalah. Dan Umar bin Khattab pun melenggang tenang ke Madinah. Allahu Akbar!
   Jangan tergesa menuduh Umar bin Khattab nekad setengah mati. Jangan pula terburu berlebihan memuji bahwa ia super pemberani tanpa strategi. Tidak, sekali-kali tidak. Yang sedang dilakukan oleh Umar adalah mengelola potensi keberanian dengan cerdas. Ia sedang berstrategi dengan mengukur kemampuan dan potensi diri. Ia tahu persis kapan harus melakukan serangan ‘psyco war’ yang tajam menghujam, sebagaimana ia juga tahu kapan saat harus mundur teratur mengganti strategi.  Inilah yang dilakukan Umar di medan Hudaibiyah. Saat seribuan lebih pasukan muslim di Madinah hendak menunaikan umrah di tanah suci, kafir Quraisy pun bersegera mengancam untuk menahan mereka mati-matian.  Lalu Rasulullah SAW pun meminta Umar untuk menjadi utusan resmi, melobi pihak Quraisy agar membuka pintu Mekah bagi kaum muslimin yang akan umrah. Tapi kali ini Umar menolak dengan halus permintaan Rasulullah SAW yang sangat dihormatinya. Umar RA merekomendasikan Utsman bin Affan agar menjadi utusan berikutnya.
Ada apa dengan Umar? Ke mana keberaniannya saat Hijrah seorang diri menantang seluruh penduduk Quraisy? Apakah keberaniannya mati suri setelah beberapa tahun menikmati kenyamanan ‘Madinah”?  Tidak, sekali-kali tidak. Kali ini Umar RA pun sedang memainkan strateginya. Ia cerdas mengelola keberanian. Ia tidak sedang takut dan bahkan tidak pernah terbesit dalam hatinya rasa takut itu. Bagaimana ia bisa takut, sedangkan Rasulullah SAW saja menggambarkan sosok Umar sebagai satu-satunya manusia yang Jin pun enggan dan jengah berpapasan dengannya? Lalu apa yang dimaksudkan Umar dengan penolakannya itu?
   Yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah strategi. Keberanian Al-Faaruuq itu tetap utuh pada tempatnya. Tidak berkurang sedikit pun dalam dadanya. Ia mundur sejenak karena sebuah strategi. Ia selalu cerdas mengelola keberanian yang ia miliki. Mengapa Umar menolak menjadi utusan Rasulullah SAW dan justru merekomendasikan nama Utsman bin Affan? Kecerdasan Umar dalam mengelola keberanian bisa kita lihat dalam beberapa hal berikut ini.

   Pertama: Umar sadar dengan potensi dirinya. Ia bukanlah tipe negosiator yang baik. Ia seorang yang tegas dan tak terlampau suka berdialog dengan penentang keberanian. Jika ia menjadi utusan, maka ia takut akan merusak agenda damai Rasulullah SAW yang datang ke Mekah untuk sebuah tujuan ibadah yang begitu mulia. Jadi pada titik ini, ia merasa bukan orang tepat untuk membawa pesan kedamaian!
   Kedua: Umar bin Khattab lebih merekomendasikan Utsman, karena Umar tahu persis bahwa Utsman lebih handal dalam kemampuan lobby dan agitasi. Bukan itu saja, Umar juga tahu bahwa Utsman masih mempunyai kaki yang kokoh di Mekah, keluarganya masih tersebar banyak di tanah mulia itu. Mereka adalah jaminan tidak langsung bagi keselamatan Utsman saat memasuki wilayah Quraisy. Berbeda dengan Umar bin Khattab dari Bani ‘Adi, yang mempunyai akses sekuat keluarga Utsman di Mekah.
   Ketiga: Umar menyadari sepenuhnya, bahwa kepalanya saat ini sangat berharga dalam pandangan orang-orang Quraisy.  Umar masuk dalam kategori ‘most wanted’ bagi keluarga veteran Badr dari pihak pasukan Quraisy. Betapa tidak? Ingatan pasukan Quraisy pasti tidak akan pernah lupa, bagaimana pedang Umar telah banyak menyambar kepala pemuka-pemuka mereka di medan Badar. Pedang Umar telah banyak menumpahkan darah yang begitu murah saat itu. Inilah yang menjadikan gigi mereka selalu bergemeretak penuh dendam saat mendengar nama Umar. Umar tahu persis akan hal ini, karenanya ia mundur sejenak bukan karena penakut. Tapi ia begitu cerdas tahu kapan saatnya maju dan mundur, dan tetap dalam keberanian yang kokoh.  Umar bin Khattab juga cerdas saat merekomendasikan nama Utsman, karena Umar tahu bahwa profil Utsman relatif netral di mata Quraisy. Mereka belum menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar, karena Utsman bin Affan tidak pernah terlibat dalam pertempuran Badar. Utsman tidak ikut mengayunkan pedang bersama kaum muslimin lainnya di medan Badr, atas perintah Rasulullah SAW untuk fokus pada perawatan istrinya yang sedang terbaring sakit parah di Madinah.

Inilah kecerdasan Umar dalam mengelola keberanian. Tahu kapan saatnya tampil meruntuhkan kesombongan lawan, dan paham kapan ia harus mundur sejenak menyimpan keberanian untuk tidak ditampilkan.
Setiap kita mempunyai potensi keberanian. Setiap hari keberanian kita akan ditantang dengan berbagai permasalahan. Keberanian kita akan senantiasa diuji dengan permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Akan ada berbagai pilihan untuk membuat keputusan-keputusan besar yang senantiasa menggoda bagi kita untuk menjawabnya saat ini juga, apakah dengan menampilkan keberanian begitu saja apa adanya, ataukah menyimpannya sejenak dengan penuh kecerdasan dan strategi sebagaimana Umar bin Khattab mencontohkan?
Semua pasti akan mengalami saat-saat semacam ini. Para penentu kebijakan selalu saja dalam posisi yang gamang; Apakah menunjukkan keberanian untuk memuaskan harapan para pendukungnya? Agar keberanian itu tetap terjaga citranya di hadapan teman, keluarga atau bawahannya. Ataukah memilih mengelola keberanian itu dengan cerdas, menyimpannya sejenak, sehingga seolah terlihat tak ada keputusan yang berani, tetapi sejatinya yang ada adalah langkah jitu yang akan membuahkan kemenangan telak dan sekaligus membungkam lawan! Akhirnya, selamat mengelola keberanian Anda dengan cerdas. Semoga bermanfaat!


Sumber : Hatta Syamsuddin | www.dakwatuna.com

Selasa, 30 September 2014

Malam Tirakatan dan Halal Bihalal bersama Warga Jaten I

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 69 warga Jaten I RT 01 RW 08 dan keluarga Panti Asuhan Riyaadlul Jannah menyelenggarakan "Malam Tirakatan dan Halal Bihalal". Acara diawali dengan penampilan rebana dari anak-anak Riyaadlul Jannah. Dilanjutkan dengan pembagian doorprize.
Adapun acara inti diantaranya sambutan ketua panitia, ketua RT/RW, pemotongan tumpeng, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan diakhiri dengan tausyiah dan do'a bersama.
Kegiatan yang mengangkat tema "Dengan semangat proklamasi 17 Agustus 1945, kita dukung suksesi kepemimpinan nasional hasil pemilu 2014, demi kelanjutan pembangunan menuju Indonesia yang Maju dan Sejahtera" ini merupakan puncak kegiatan 17-an yang sebelumnya telah diadakan jalan sehat dan lomba-lomba diantaranya lomba masak nasi goreng, makan mie (kategori dewasa), makan kerupuk, lari kelereng, terong-terongan



.

Pemberian Hadiah untuk Anak yang Berprestasi



Untuk mengapresiasi prestasi anak-anak asuh, kami mempunyai program pemberian hadiah untuk anak yang meraih ranking 1 sampai 5 di kelas masing-masing di tiap semesternya. Hal itu untuk meningkatkan semangat anak untuk terus berprestasi serta memacu anak yang lain untuk ikut berprestasi. Selama ini alhamdulillah anak-anak kami banyak yang menempati peringkat 5 besar dikelasnya. Hadiah langsung diserahkan oleh Ibu Ketua Pengurus PA Riyaadlul Jannah, Ibu Hj Trusti Rahayu didampingi sie pendidikan Ibu Umi Sakdiyah
Adapun anak-anak yang berprestasi adalah sebagai berikut :
Rangking 1 :
- Wiji Ardiyanto (Kelas XII SMK Pandanaran)
- Heni Ika Tinokiki (Kelas XII MA Syaroful Millah)
- M Ali Mursidi (Kelas IX MTs Futuhiyyah)

Rangking 2 :
- M Abd Hasan Yusuf (Kelas XII SMK Pandanaran)
- Shikata Aini  (Kelas XII MA Syaroful Millah)
- Dita Kus Khaerunnisa (Kelas VI MI Futuhiyyah)

Rangking 3 :
- M Wahyudi (Kelas XII SMK Pandanaran)
- Royo Triyono (Kelas XI SMK Tlogosari)
- Kun Hayuningtyas (Kelas IX MTs Syaroful Millah)

Rangking 4 :
- M Arifin Febriyansyah (Kelas XII SMK Pandanaran)

Selamat kepada anak-anak yang berprestasi.

Halal Bihalal Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturrahman

Pada tanggal 10 Agustus 2014, Panti Asuhan Riyaadlul Jannah menyelenggarakan Halal Bihalal bersama Konsultan, pengurus, guru, dan alumni. Acara yang dilaksanakan di Masjid Ali Usman ini bertujuan untuk mempererat tali silaturrahim. Pada acara tersebut dihadiri oleh Bapak Susmono selaku sesepuh YPKPI Baiturrahman yang memberi beberapa motivasi untuk para hadirin.
Acara diawali dengan sambutan ketua pengurus PA Riyaadlul Jannah, Ibu Trusti Toto. Dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Susmono. sebelum tausyiah dimulai ada hiburan rebana dari anak-anak asuh Riyaadlul Jannah. Acara semakin khitmat ketika Ustadz Danusiri menyampaikan tausyiah tentang asal mula serta hikmah dari Halal Bihalal.
Acara diakhiri dengan foto bersama dan ramah-tamah.



Berbagi Parcel dengan Tukang Becak


Menjelang lebaran kemaren, para pengurus PA Riyaadlul Jannah mengadakan kegiatan berbagi parcel dengan para tukang becak. Parcel dibagikan kepada tukang becak di area sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Hal itu sejalan dengan visi misi panti, dimana selain mensejahterakan anak-anak asuh kami juga ikut membantu dhuafa yang ada di lingkungan sekitar. Acara ini dilaksanakan rutin tiap tahunnya menjelang lebaran.



Khataman Qurán 1000 santri PPPA Daarul Qurán




Dalam rangka peringatan Nuzulul Qurán bulan Ramadhan 1435 H, PPPA Darul Qurán Jawa Tengah menggelar acara "Khataman Qurán 1000 santri di Malam Seribu Bulan". Acara serentak dilaksanakan dilaksanakan di 7 kota di Jawa Tengah yaitu Semarang, Tegal, Kudus, Purwokerto, Wonosobo, Salatiga dan Purwodadi. Untuk kota Semarang berlokasi di Masjid Madya Mangun Karsa, Jalan Woltermonginsidi Semarang. Pada acara tersebut dihadiri oleh para asatidz dan santri rumah tahfidz. Termasuk Rumah Tahfidz Riyaadlul Jannah. Selain khataman qurán, pada kesempatan tersebut juga ada penyerahan 1000 Al Qurán kepada santri Rumah Tahfidz.

Ceramah Dari Konsultan Bidang Kesehatan Ibu dr. Hj. Nahwa Arkhaesi, M,Si, Med, Sp.A Di LKSA Riyaadlul Jannah

Ahad, 10 Desember 2023 pengurus dan pengasuh LKSA Riyaadlul Jannah mengadakan pertemuan bulanan yang sudah lama berhenti. Kegiatan tersebu...