Selasa, 30 September 2014

Hikmah dan Keutamaan Qurban


Sebentar lagi insya Allah kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya ‘Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan untuk berkurban tahun ini, ada baiknya Anda menyimak hikmah dan keutamaan qurban pada hari-hari tersebut:

1. Kebaikan dari setiap helai bulu hewan kurban
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]
2. Berkurban adalah ciri keislaman seseorang
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
3. Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah
Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]
4. Berkurban membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa
“Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]
5. Berkurban adalah ibadah yang paling utama
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat…”
6. Berkurban adalah sebagian dari syiar agama Islam
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Qur’an Surat Al Hajj : 34]
7. Mengenang ujian kecintaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]

sumber : www.fimadani.com

Ibadah-Ibadah di Bulan Dzulhijjah

Sekarang kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Jika bulan ini disebut, maka dalam pikiran kita spontan teringat pada dua hal: pertama, tiap minggu kondangan karena banyak yang menikah, dan kedua, nyate bareng sama tetangga sehabis motong kambing kurban. Padahal, bulan Dzulhijjah lebih dari itu. Secara khusus Rasulullah saw. menyebut keutamaan bulan ini, terutama untuk 10 hari pertama di awal bulan.


Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)
Dari Umar r.a., bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang dicintai Allah swt., jangan sia-siakan kesempatan ini untuk taqarrub kepada Allah swt. dengan banyak-banyak melakukan ibadah. Setidaknya ada delapan ibadah yang bisa kita lakukan, yaitu:

1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Ini adalah amal yang paling utama di bulan Dzulhijjah. Tidak ada haji selain di bulan Dzulhijjah. Ganjaran bagi orang yang melaksanakan ibadah ini sangat besar di sisi Allah swt. Kata Nabi saw., “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.”

2. Berpuasa selama 10 hari di hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, atau pada sebagiannya, atau paling tidak sehari di hari Arafah. Puasa juga amalan utama. Allah swt. memilih puasa sebagai amalan hambaNya untuk diriNya sehingga Dia sendiri yang menentukan pahalanya. Hal ini termaktub dalam sebuah hadist Qudsi. “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku.”
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Qatadah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”. (HR. Muslim)

3. Bertakbir dan berdzikir. Perbanyaklah takbir dan dzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang diperintahkan Allah swt., “…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan….” [QS. Al-Hajj (20): 28]. Begitulah para ahli tafsir menafsirkannya frase “pada hari-hari yang ditentukan” dengan “sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah”. Karena itu, para ulama menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Apalagi ada hadits dari Ibnu Umar r.a. yang menguatkan. Bunyinya, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad)
Imam Bukhari menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya.
Diriwayatkan bahwa para tabiin pada hari-hari itu mengucapkan, “Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, walllahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamdu.” Artinya, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (sembahan) selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah.”
Dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir baik ketika di masjid, rumah, pasar, atau di jalan. Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [QS. Al-Baqarah (2): 185]
Perbanyak taubat dan meninggalkan segala bentuk maksiat dan dosa. Maksiat adalah penyebab jauhnya hamba dari Allah swt. Sedangkan ketaatan adalah pintu mendapat cinta dan kasih sayang Allah swt. Dan Allah swt. lebih cinta kepada seorang hamba melebihi cinta sang hamba kepada Allah swt. Bahkan, Allah swt. cemburu jika hambanya berbuat maksiat. Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi swt. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (Hadits muttafaq ‘alaihi)

4. Perbanyaklah amal shalih. Bukan hanya amal-amal yang fardhu saja. Sebab, Allah swt. suka dan mencintai seorang hamba yang mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan nawafil, amalan sunah. Kita bisa memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, berjihad, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kita sangat berharap semua amalan itu bisa mendatangkan banyak pahala. Tapi, kita lebih berharap lagi mendapat cintai dan ridha Allah swt.

5. Disyariatkan pula kita melakukan takbir muthlaq –yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied– dan takbir muqayyad –yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah. Bagi kita yanga sedang tidak berhaji, takbir dimulai dari sejak Zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

6. Berkurban. Bisa kita lakukan pada Hari Raya Qurban dan Hari-hari Tasyriq. Ibadah ini adalah sunnah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw. mengukuhkannya menjadi syariat bagi kita. Sabda Nabi, “Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Hadits muttafaq ‘alaihi).

7. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” Dalam riwayat lain, “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban.”
Hal ini untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah, “Dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan.” [QS. Al-Baqarah (2): 196]. Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

8. Melaksanakan shalat Iedul Adha dan mendengarkan khutbahnya. Bahkan, anak-anak dan wanita-wanita yang sedang haidh pun diperintahkan Nabi saw. untuk hadir bersama jama’ah shalat ied di tanah lapang untuk mendengarkan khutbah.


Sumber: www.dakwatuna.com

Selasa, 13 Mei 2014

Outbond PA Riyaadlul Jannah di Nglimut Gonoharjo

Minggu (11/05), PA Riyaadlul Jannah mengadakan outbond di area hutan pinus Nglimut Gonoharjo, Kendal.     Kegiatan yang dilaksanakan rutina pertahun ini bertujuan sebagai sarana refreshing anak-anak asuh sekaligus sebagai sarana untuk melatih kedisiplinan, kekompakan, kerjasama, kejujuran anak. Kegiatan dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Acara yang dipandu oleh para relawan PMI Kota Semarang ini diikuti oleh sekitar 40 orang dan dihadiri oleh pengurus panti dan konsultan kesehatan. Acara dibuka dengan doĆ” oleh bapak Abdul Rahman dilanjutkan penyerahan acara dari Ibu Trusti kepada pemandu yang dipimpin oleh Bapak Saiful.
Sebelum memasuki kegiatan outbond, peserta diberi pengarahan dan diajak beberapa game pemanasan. Dilanjutkan dengan ceramah kesehatan dari dr Gunadi yang menjelaskan cara hidup sehat ala Nabi. Diantaranya adalah membiasakan bangun sebelum shubuh, tidak makan berlebihan, menjaga kebersihan, dan lain sebagainya.
Peserta dibagi menjadi 5 kelompok (2 kelompok putra dan 3 kelompok putri) dimana masing-masing kelompok diminta membuat yel-yel penyemangat. Dalam sesi pertama ada sekitar 6 game diantarannya memindahkan bola, estafet tepung, sabuk bareng, gambar lanjut,rapling dan pipa air. Peserta terlihat sangat antusias, muncul kerjasama, leadership dan kebersamaan.

Sesi pertama diakhiri dengan ishoma. Sesi kedua adalah game puncak yang cukup menantang. Dimana lokasinya menyusuri sungai. Tiap kelompok diberi satu lilin yang dinyalakan. Lilin tidak boleh padam sampai finish susur sungai. Di finish disiapkan satu hadiah yang digantung dengan tali rafia di atas air sungai yang mengalir deras. Hadiah boleh diambil oleh kelompok yang paling dulu finish dan dipotong dengan nyala lilin. Semangat tiap kelompok sangat luar biasa, mulai dari menyusuri sungai sampai dengan kreatif akhirnya mereka mampu meraih hadiah yang tergantung itu.
Diakhir kegiatan, disampaikan hikmah/pelajaran yang bisa diambil dari game yang dilakukan dari awal sampai akhir. Ditutup dengan foto bersama antara peserta, pengurus dan pemandu.


Kamis, 01 Mei 2014

Juara I & II Lomba keterampilan di SMA 3 Semarang

Minggu (27/4) Pramuka SMA 3 Semarang Ambalan Soeringgit mengadakan Lomba keterampilan untuk anak panti asuhan se Kota Semarang. Lomba dilaksanakan di halaman SMA 3 Semarang sekitar 07.30 WIB. Lomba tersebut diikuti oleh 7 kelompok anak panti asuhan di kota Semarang. Panti Asuhan Riyaadlul Jannah mengirimkan 2 kelompok, dimana 1kelompok terdiri dari 3 anak. Kelompok pertama adalah Ali Mursidi, Alya Adiba, dan Indah Nur. sedang kelompok kedua Andre, Dian dan Tyas. Anak-anak kami membuat karya tempat pensil yang terbuat kaleng, kertas lipat, dan potongan kain. Peserta diberi waktu sekitar 45menit untuk menyelesaikan karyanya. Beberapa karya anak-anak bagus-bagus membuat juri bingung memberi nilai.
Setelah karya selesai para peserta menonton video motivasi selama 2 jam.Dilanjutkan makan siang bersama.


Diakhir acara diumumkan pemenang lomba. Dan Alhamdulillah anak-anak kami berhasil meraih juara I dan Juara II. Semoga bisa memotivasi anak-anak yang lain untuk selalu berprestasi. Aamiin..

Minggu, 02 Maret 2014

Kemuliaan Seorang Ibu


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ;
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)
Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,
Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
(Akan dikatakan kepadanya),
“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)
(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)
Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.
Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya. sumber : (muslimah.or.id)

Rabu, 26 Februari 2014

Luangkan waktumu untuk Tilawah Al-Qur’an



SESIBUK apa kita hari ini? Berapa jam kita beraktifitas?  Dan berapa jam kita sempatkan untuk bukan Facebook, Twitter-an, SMS-an atau chatting dengan kawan dan orang terdekat kita?
Bandingkan kesediaan diri kita untuk meluangkan sedikit waktu membuka mushaf al-Quran, sempatkah? Sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak bisa mengaji setiap hari, barang semenit-dua menit. Karena sebenarnya mengaji adalah kebutuhan yang  paling penting di antara kebutuhan yang lain.  Padahal kita hanya butuh waktu sedikit saja dari persediaan waktu kerja kita.
Untuk mengkhatamkan satu juz per 24 jam saja mungkin hanya butuh waktu 30 menit, atau setengah juz lah minimal, sehingga al-Quran yang 30 Juz itu bias kita khatamkan dalam setiap bulan sekali, atau dalam 2 bulan sekali dan ini masih terlalu lama untuk 30 juz.
Ada kesalahan besar yang tidak kita sadari, kita merasa bahwa pekerjaan adalah kesibukan yang  paling berharga, paling penting dan tidak bisa diganggu oleh kegiatan apapun. Dan  karena alas an inilah kemudian hal-hal lain yang diluar pekerjaan dianggap tidak penting  bahkan terkadang dijadikan sebagai penghambat kelancaran pekerjaan itu.
Sangat disayang, jika ternyata al-Quran yang penuh dengan keberkahan itu kita abaikan karena kepentingan pekerjaan, al-Quran dianggap tidak lebih penting dari pekerjaan, Na’udzubillah.
Padahal, seandainya Keberkahan al-Quran itu ditampakkan mungkin  yang bisa kita lihat adalah keberkahan itu  mengalir kesemua arah, tidak hanya berupa pahala yang dijanjikan pada pembacanya, tapi reaksi berkah yang didapat dari al-Quran itu mengalir juga keurusan dunia kita, termasuk urusan pekerjaan kita. Allah berfirman;
Ų„ِنَّ Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ يَŲŖْŁ„ُŁˆŁ†َ كِŲŖَŲ§ŲØَ اللَّهِ وَŲ£َŁ‚َŲ§Ł…ُوا الصَّŁ„َŲ§Ų©َ وَŲ£َنفَŁ‚ُوا Ł…ِŁ…َّŲ§ Ų±َŲ²َŁ‚ْنَاهُŁ…ْ Ų³ِŲ±ّŲ§ً وَŲ¹َŁ„َانِيَŲ©ً يَŲ±ْŲ¬ُŁˆŁ†َ ŲŖِŲ¬َŲ§Ų±َŲ©ً Ł„َّن ŲŖَŲØُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rizqi yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS: Fathir [35]: 29)
Sebaliknya, sangat  beruntung sekali mereka yang masih bisa meluangkan sebagian waktunya untuk mengaji, mengejar target untuk menyelesaikan satu juz dalam sehari, maka bagi merekalah keberkahan itu tertuang, berkah dalam keluarganya, pekerjaannya, dan berkah pada semuanya.
Kenapa bisa beruntung..? Jawabannya sudah sangat jelas, dibaca saja al-Quran itu mendatangkan keuntungan, apalagi jika sampai diamalkan.
Efek positifnya sangat berpengaruh besar terhadap manusia.
Hal ini telah dibuktikan oleh hasil penelitian Ilmiah bahwa saraf mata manusia itu jumlahnya sama dengan jumlah huruf al-Quran, sehingga dari hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa siapapun yang sering membaca al-Quran maka akan dijauhkan dari penyakit mata.
Tidak cuma sekedar itu, golombang energi yang dihasilkan dari getaran lantunan ayat al-Quran mampu meningkatkan daya ingat dan memberikan ketenangan yang sangat luar biasa, hal inilah yang menjadi kesimpulan akhir dari hasil penelitian seorang ilmuan hebat di Amerika.
Adalah Dr. Al-Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di klinik di Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat al-Quran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologi yang sangat besar, luar biasa bukan?
Kemudian, jika kita hubungkan hasil penelitian tersebut dengan pekerjaan, maka pengaruh positif yang dberikan oleh al-Quran sangat banyak sekali, kerjaannya fokus dan penuh konsentrasi, dan inilah yang jarang sekali difikirkan oleh mereka yang sibuk dengan pekerjaannya, atau memang sengaja di abaikan karena  alasan malas tersebut.
Masih mau memakai alasan apalagi untuk tidak menyempatkan buka al-Quran dan mengaji?
Sungguh rugi jika sebagai Muslim tidak menyempatkan membaca al-Quran yang merupakan sumber energi yang sangat luar biasa. Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam bersabda ;
“Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatupun dari al-Quran laksana sebuah rumah yang runtuh.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits lain Nabi mengatakan,
“Bacalah al-Quran sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.” (HR. Muslim).
Nah, mulai hari ini, hindari sok sibuk dengan menyempatkan baca al-Quran dan tilawah.* (Khotib Umam)
sumber : daulahislam.com

Minggu, 09 Februari 2014

Amalan Ringan Pengantar ke Surga


Tidak ada satu pun yang tahu kapan dan bagaimana kematian datang menjemput, yang pasti akan ada dua tempat yang telah disediakan setelah kematian itu datang: surga dan neraka. Memasuki surga adalah dambaan setiap insan, siapapun bisa memasukinya. Tidak membedakan kaya-miskin, pejabat-rakyat, muda-tua, sehat-sakit, asal ia mau mengikuti anjuran Allah, maka jalan ke surga selalu terbuka. Surga bukanlah tempat yang diberikan cuma-cuma, tempat tersebut merupakan karunia dari bentuk kasih sayang Allah setelah kita berusaha mengamalkan perintah-Nya.
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Hadis riwayat Muslim).
Siapa sih yang tidak ingin masuk surga? Kalau terlontar pertanyaan seperti itu dapat dipastikan semua mukmin pasti menginginkannya. Di surga jelas tidak ada rasa sakit, tidak ada kata-kata yang menjengkelkan, tidak ada percecokan dan peperangan yang membuat sedih hati. Di surga hanya akan ada himpunan kebaikan, di mana para syuhada dan perindu nabi bercengkrama bersama. Luar biasa indah bukan?
Sebagai seorang muslim yang mengharap dapat kembali di tempat terbaik tersebut, kita tentu akan berupaya untuk meraihnya. Beberapa upaya yang dapat mengantar kita ke dalam surga Allah adalah dengan menghidupkan amalan-amalan ringan yang tinggi nilainya di hadapan-Nya. Amalan-amalan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengatakan Kebaikan
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al Ahzaab [32]: 70-71)
Ayat yang diawali dengan panggilan cinta “Yaa ayyuhalladziina aamanu.. (Hai orang-orang yang beriman)” seperti di atas menyampaikan inti pemahaman kepada kita bahwa al-qaul as-sadid atau ‘perkataan yang benar’ itu merupakan praktik nyata dari keimanan seseorang. Perkataan yang senantiasa diperbaiki tersebab rasa takut pada Allah dan berharap akan manisnya iman yang semakin terhujam di dalam hati manusia menjadi salah satu amalan untuk membuka pintu surga, karenanya dalam ayat tersebut orang-orang mukmin diajak untuk senantiasa memperbaiki perkataannya dengan berkata yang baik (benar).
2. Memberi tangguh kepada orang lain
Maksud tangguh di sini adalah memberi keluangan waktu sampai saudaranya yang berhutang sanggup membayar hutangnya atau si pemberi pinjaman membebaskan hutang peminjam tersebab si peminjam memang tak sanggup mengembalikan. Dalam selang waktu untuk menangguhkan hutang saudaranya tersebut, maka Allah akan senantiasa mengalirkan pahala bagi si pemberi pinjaman. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: ”Sesiapa yang memberi tangguh kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya atau mengurangkan bayaran jumlah hutangnya, niscaya Allah menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah.”( HR. Riwayat Muslim dan Imam Ahmad)
3. Memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim
Berikanlah kegembiraan atau kebahagiakan kepada sesama muslim, karena Allah tidak ridha memberikan balasan untuknya kecuali surga. Masyaa Allah.. Siapa yang tidak bahagia apabila mengetahui dirinya akan mendapat balasan surga?  Membahagiakan saudara ke sesama muslim bukanlah hal yang berat, kita dapat menghulurkan sedekah yang paling mudah dan murah, tetapi sangat besar nilainya ketika berjumpa: sekuntum senyuman manis. Tiada yang lebih manis dari senyum yang mengharap Ridha Illahi. Selain itu Bagi sesiapa yang berkemampuan lebih dalam hal materi tentu memberikan bantuan berupa materi akan jauh lebih berarti bagi saudaranya yang membutuhkannya.
Dalam sebuah Hadist Riwayat At-Tabrani disampaikan: “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah selepas amalan-amalan yang fardhu ialah menggembirakan seorang muslim, engkau berikan pakaian untuk menutup auratnya, atau engkau mengenyangkannya ketika dia kelaparan, atau engkau tunaikan hajatnya.”
Bentuk selanjutnya adalah dengan menghubungkan saudaranya kepada seorang penguasa sehingga hajatnya terpenuhi, memberi ucapan selamat kepada saudaranya yang tengah berbahagia serta memperlihatkan perhatian kepada sesama muslim dengan meminta saran dan doanya. Sederet amalan tadi nampaknya memang tak begitu berat, akan tetapi tetap saja membutuhkan perjuangan. Bila salah satu di antaranya dapat kita kerjakan Insyaa Allah akan menjadi amalan yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.
4. Berterima kasih kepada orang lain
Berterima kasih kepada orang lain adalah perangai yang terpuji, bentuk ucapan tersebut bukan semata ucapan yang keluar dari lisan saja. Sempurnanya ketika kita membalas kebaikan mereka dengan memberikan sesuatu yang sebanding atau lebih baik, namun bila tidak mampu cukuplah terus menerus mendoakannya hingga kita telah merasa yakin bahwa kita telah membalas kebaikan saudara sesama muslim.
Selain itu anjuran agama juga menyampaikan untuk memberikan pujian kebaikan kepada saudara kita yang telah berbuat baik, salah satunya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menceritakannya kepada orang lain. Hal ini memang membutuhkan sebuah pengontrolan diri, sehingga niat senantiasa diluruskan dan si pemberi tidak terjerumus dalam riya. Mungkin ada benarnya anjuran ini: pujilah secukupnya dan jadikan motivasi bagi kita untuk ikut terus berbuat kebaikan seperti mereka.
Dalam QS. Al-Qasas : 25, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. 28 : 25)
Selain itu apabila kita sudah menerima pemberian dari saudara kita, usahakan agar jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang dapat menyinggung si pemberi. Tidak meremehkan atau menghina pemberiannya, terlebih mengeluarkan kata-kata yang memaksa si pemberi agar harus mengeluarkan tambahan pemberian kepada kita.
5. Memberi maaf kepada yang bersalah
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat pemaaf. Ketika beliau melewati berjalan dan diganggu oleh seseorang yang tidak menyukainya, beliau selalu memaafkan. Sampai akhirnya ketika orang yang suka mengganggu itu sakit maka Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Dalam sebuah potongan sejarah, beliau juga pernah mendapat perlakuan yang buruk dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat datang dan menanyakan apakah perlu masyarakat yang berlaku buruk tersebut dihukum, Nabi meminta untuk memaafkan mereka karena mungkin mereka belum tahu. Masyaa Allah, begitu luar biasa perangai Sang Rasul Allah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad.
Memberi maaf memang bukan hal yang mudah bila dikaitkan sampai pada keikhlasan, meski begitu kebiasaan ini patutlah kita biasakan, karena perihal keikhlasan hanya Allah saja yang berhak menilai. Memberi maaf juga bukan menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Suka memaafkan justru menunjukkan sifat kemuliaan seseorang karena ia bercermin langsung dari sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, karena seberapa besar pun kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya, Allah senantiasa membukakan pintu maaf yang lebar bagi kita. Bila dikaji lebih dalam, sikap ini menunjukkan seseorang telah berhasil memilih jalan yang dekat dengan keridhaan Allah, meski boleh jadi mereka bisa menuntut balas atas kesalahan orang kepadanya.
Sebagai seorang muslim yang senantiasa berharap surga-Nya, semoga kita mampu mengamalkan beberapa amalan di atas, sehingga saat kematian datang menjemput, kita pantas meraih kasih sayang Allah Azza wa jalla berupa surga yang dirindu setiap umat manusia.
Allahu a’lam bisshawab. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sumber : Buku Amalan-Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga

Ceramah Dari Konsultan Bidang Kesehatan Ibu dr. Hj. Nahwa Arkhaesi, M,Si, Med, Sp.A Di LKSA Riyaadlul Jannah

Ahad, 10 Desember 2023 pengurus dan pengasuh LKSA Riyaadlul Jannah mengadakan pertemuan bulanan yang sudah lama berhenti. Kegiatan tersebu...