Rabu, 26 Februari 2014

Luangkan waktumu untuk Tilawah Al-Qur’an



SESIBUK apa kita hari ini? Berapa jam kita beraktifitas?  Dan berapa jam kita sempatkan untuk bukan Facebook, Twitter-an, SMS-an atau chatting dengan kawan dan orang terdekat kita?
Bandingkan kesediaan diri kita untuk meluangkan sedikit waktu membuka mushaf al-Quran, sempatkah? Sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak bisa mengaji setiap hari, barang semenit-dua menit. Karena sebenarnya mengaji adalah kebutuhan yang  paling penting di antara kebutuhan yang lain.  Padahal kita hanya butuh waktu sedikit saja dari persediaan waktu kerja kita.
Untuk mengkhatamkan satu juz per 24 jam saja mungkin hanya butuh waktu 30 menit, atau setengah juz lah minimal, sehingga al-Quran yang 30 Juz itu bias kita khatamkan dalam setiap bulan sekali, atau dalam 2 bulan sekali dan ini masih terlalu lama untuk 30 juz.
Ada kesalahan besar yang tidak kita sadari, kita merasa bahwa pekerjaan adalah kesibukan yang  paling berharga, paling penting dan tidak bisa diganggu oleh kegiatan apapun. Dan  karena alas an inilah kemudian hal-hal lain yang diluar pekerjaan dianggap tidak penting  bahkan terkadang dijadikan sebagai penghambat kelancaran pekerjaan itu.
Sangat disayang, jika ternyata al-Quran yang penuh dengan keberkahan itu kita abaikan karena kepentingan pekerjaan, al-Quran dianggap tidak lebih penting dari pekerjaan, Na’udzubillah.
Padahal, seandainya Keberkahan al-Quran itu ditampakkan mungkin  yang bisa kita lihat adalah keberkahan itu  mengalir kesemua arah, tidak hanya berupa pahala yang dijanjikan pada pembacanya, tapi reaksi berkah yang didapat dari al-Quran itu mengalir juga keurusan dunia kita, termasuk urusan pekerjaan kita. Allah berfirman;
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rizqi yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS: Fathir [35]: 29)
Sebaliknya, sangat  beruntung sekali mereka yang masih bisa meluangkan sebagian waktunya untuk mengaji, mengejar target untuk menyelesaikan satu juz dalam sehari, maka bagi merekalah keberkahan itu tertuang, berkah dalam keluarganya, pekerjaannya, dan berkah pada semuanya.
Kenapa bisa beruntung..? Jawabannya sudah sangat jelas, dibaca saja al-Quran itu mendatangkan keuntungan, apalagi jika sampai diamalkan.
Efek positifnya sangat berpengaruh besar terhadap manusia.
Hal ini telah dibuktikan oleh hasil penelitian Ilmiah bahwa saraf mata manusia itu jumlahnya sama dengan jumlah huruf al-Quran, sehingga dari hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa siapapun yang sering membaca al-Quran maka akan dijauhkan dari penyakit mata.
Tidak cuma sekedar itu, golombang energi yang dihasilkan dari getaran lantunan ayat al-Quran mampu meningkatkan daya ingat dan memberikan ketenangan yang sangat luar biasa, hal inilah yang menjadi kesimpulan akhir dari hasil penelitian seorang ilmuan hebat di Amerika.
Adalah Dr. Al-Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di klinik di Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat al-Quran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologi yang sangat besar, luar biasa bukan?
Kemudian, jika kita hubungkan hasil penelitian tersebut dengan pekerjaan, maka pengaruh positif yang dberikan oleh al-Quran sangat banyak sekali, kerjaannya fokus dan penuh konsentrasi, dan inilah yang jarang sekali difikirkan oleh mereka yang sibuk dengan pekerjaannya, atau memang sengaja di abaikan karena  alasan malas tersebut.
Masih mau memakai alasan apalagi untuk tidak menyempatkan buka al-Quran dan mengaji?
Sungguh rugi jika sebagai Muslim tidak menyempatkan membaca al-Quran yang merupakan sumber energi yang sangat luar biasa. Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam bersabda ;
“Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatupun dari al-Quran laksana sebuah rumah yang runtuh.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits lain Nabi mengatakan,
“Bacalah al-Quran sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.” (HR. Muslim).
Nah, mulai hari ini, hindari sok sibuk dengan menyempatkan baca al-Quran dan tilawah.* (Khotib Umam)
sumber : daulahislam.com

Minggu, 09 Februari 2014

Amalan Ringan Pengantar ke Surga


Tidak ada satu pun yang tahu kapan dan bagaimana kematian datang menjemput, yang pasti akan ada dua tempat yang telah disediakan setelah kematian itu datang: surga dan neraka. Memasuki surga adalah dambaan setiap insan, siapapun bisa memasukinya. Tidak membedakan kaya-miskin, pejabat-rakyat, muda-tua, sehat-sakit, asal ia mau mengikuti anjuran Allah, maka jalan ke surga selalu terbuka. Surga bukanlah tempat yang diberikan cuma-cuma, tempat tersebut merupakan karunia dari bentuk kasih sayang Allah setelah kita berusaha mengamalkan perintah-Nya.
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Hadis riwayat Muslim).
Siapa sih yang tidak ingin masuk surga? Kalau terlontar pertanyaan seperti itu dapat dipastikan semua mukmin pasti menginginkannya. Di surga jelas tidak ada rasa sakit, tidak ada kata-kata yang menjengkelkan, tidak ada percecokan dan peperangan yang membuat sedih hati. Di surga hanya akan ada himpunan kebaikan, di mana para syuhada dan perindu nabi bercengkrama bersama. Luar biasa indah bukan?
Sebagai seorang muslim yang mengharap dapat kembali di tempat terbaik tersebut, kita tentu akan berupaya untuk meraihnya. Beberapa upaya yang dapat mengantar kita ke dalam surga Allah adalah dengan menghidupkan amalan-amalan ringan yang tinggi nilainya di hadapan-Nya. Amalan-amalan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengatakan Kebaikan
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al Ahzaab [32]: 70-71)
Ayat yang diawali dengan panggilan cinta “Yaa ayyuhalladziina aamanu.. (Hai orang-orang yang beriman)” seperti di atas menyampaikan inti pemahaman kepada kita bahwa al-qaul as-sadid atau ‘perkataan yang benar’ itu merupakan praktik nyata dari keimanan seseorang. Perkataan yang senantiasa diperbaiki tersebab rasa takut pada Allah dan berharap akan manisnya iman yang semakin terhujam di dalam hati manusia menjadi salah satu amalan untuk membuka pintu surga, karenanya dalam ayat tersebut orang-orang mukmin diajak untuk senantiasa memperbaiki perkataannya dengan berkata yang baik (benar).
2. Memberi tangguh kepada orang lain
Maksud tangguh di sini adalah memberi keluangan waktu sampai saudaranya yang berhutang sanggup membayar hutangnya atau si pemberi pinjaman membebaskan hutang peminjam tersebab si peminjam memang tak sanggup mengembalikan. Dalam selang waktu untuk menangguhkan hutang saudaranya tersebut, maka Allah akan senantiasa mengalirkan pahala bagi si pemberi pinjaman. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: ”Sesiapa yang memberi tangguh kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya atau mengurangkan bayaran jumlah hutangnya, niscaya Allah menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah.”( HR. Riwayat Muslim dan Imam Ahmad)
3. Memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim
Berikanlah kegembiraan atau kebahagiakan kepada sesama muslim, karena Allah tidak ridha memberikan balasan untuknya kecuali surga. Masyaa Allah.. Siapa yang tidak bahagia apabila mengetahui dirinya akan mendapat balasan surga?  Membahagiakan saudara ke sesama muslim bukanlah hal yang berat, kita dapat menghulurkan sedekah yang paling mudah dan murah, tetapi sangat besar nilainya ketika berjumpa: sekuntum senyuman manis. Tiada yang lebih manis dari senyum yang mengharap Ridha Illahi. Selain itu Bagi sesiapa yang berkemampuan lebih dalam hal materi tentu memberikan bantuan berupa materi akan jauh lebih berarti bagi saudaranya yang membutuhkannya.
Dalam sebuah Hadist Riwayat At-Tabrani disampaikan: “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah selepas amalan-amalan yang fardhu ialah menggembirakan seorang muslim, engkau berikan pakaian untuk menutup auratnya, atau engkau mengenyangkannya ketika dia kelaparan, atau engkau tunaikan hajatnya.”
Bentuk selanjutnya adalah dengan menghubungkan saudaranya kepada seorang penguasa sehingga hajatnya terpenuhi, memberi ucapan selamat kepada saudaranya yang tengah berbahagia serta memperlihatkan perhatian kepada sesama muslim dengan meminta saran dan doanya. Sederet amalan tadi nampaknya memang tak begitu berat, akan tetapi tetap saja membutuhkan perjuangan. Bila salah satu di antaranya dapat kita kerjakan Insyaa Allah akan menjadi amalan yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.
4. Berterima kasih kepada orang lain
Berterima kasih kepada orang lain adalah perangai yang terpuji, bentuk ucapan tersebut bukan semata ucapan yang keluar dari lisan saja. Sempurnanya ketika kita membalas kebaikan mereka dengan memberikan sesuatu yang sebanding atau lebih baik, namun bila tidak mampu cukuplah terus menerus mendoakannya hingga kita telah merasa yakin bahwa kita telah membalas kebaikan saudara sesama muslim.
Selain itu anjuran agama juga menyampaikan untuk memberikan pujian kebaikan kepada saudara kita yang telah berbuat baik, salah satunya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menceritakannya kepada orang lain. Hal ini memang membutuhkan sebuah pengontrolan diri, sehingga niat senantiasa diluruskan dan si pemberi tidak terjerumus dalam riya. Mungkin ada benarnya anjuran ini: pujilah secukupnya dan jadikan motivasi bagi kita untuk ikut terus berbuat kebaikan seperti mereka.
Dalam QS. Al-Qasas : 25, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. 28 : 25)
Selain itu apabila kita sudah menerima pemberian dari saudara kita, usahakan agar jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang dapat menyinggung si pemberi. Tidak meremehkan atau menghina pemberiannya, terlebih mengeluarkan kata-kata yang memaksa si pemberi agar harus mengeluarkan tambahan pemberian kepada kita.
5. Memberi maaf kepada yang bersalah
Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat pemaaf. Ketika beliau melewati berjalan dan diganggu oleh seseorang yang tidak menyukainya, beliau selalu memaafkan. Sampai akhirnya ketika orang yang suka mengganggu itu sakit maka Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Dalam sebuah potongan sejarah, beliau juga pernah mendapat perlakuan yang buruk dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat datang dan menanyakan apakah perlu masyarakat yang berlaku buruk tersebut dihukum, Nabi meminta untuk memaafkan mereka karena mungkin mereka belum tahu. Masyaa Allah, begitu luar biasa perangai Sang Rasul Allah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad.
Memberi maaf memang bukan hal yang mudah bila dikaitkan sampai pada keikhlasan, meski begitu kebiasaan ini patutlah kita biasakan, karena perihal keikhlasan hanya Allah saja yang berhak menilai. Memberi maaf juga bukan menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Suka memaafkan justru menunjukkan sifat kemuliaan seseorang karena ia bercermin langsung dari sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, karena seberapa besar pun kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya, Allah senantiasa membukakan pintu maaf yang lebar bagi kita. Bila dikaji lebih dalam, sikap ini menunjukkan seseorang telah berhasil memilih jalan yang dekat dengan keridhaan Allah, meski boleh jadi mereka bisa menuntut balas atas kesalahan orang kepadanya.
Sebagai seorang muslim yang senantiasa berharap surga-Nya, semoga kita mampu mengamalkan beberapa amalan di atas, sehingga saat kematian datang menjemput, kita pantas meraih kasih sayang Allah Azza wa jalla berupa surga yang dirindu setiap umat manusia.
Allahu a’lam bisshawab. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sumber : Buku Amalan-Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga

Sabtu, 25 Januari 2014

dr. Nahwa Arkhaesi, Sp.A. : "Waspada DBD !!"

Salah satu program rutin kami adalah kegiatan bersama para konsultan panti. Dimana dijadwal secara bergantian sesuai bidang masing-masing dengan tujuan untuk lebih mengembangkan panti dan meningkatkan wawasan anak asuh kami. Beberapa diantaranya adalah Prof. Abu Suúd (konsultan kerohanian), dr. Siti Nuraini, Sp KJ (Psikiater, konsultan kesehatan), H. Ateng Ghozani, SE, MSi, Dra Sri Tantowiyah, MPd (Konsultan Pendidikan), dr. Nahwa Arkhaesi, MSi Med, Sp A (Spesialis Anak) dan lain-lain.


Dan untuk bulan ini (25/01) jadwal kegiatan bersama dr. Nahwa Arkhaesi, MSi Med, Sp A. Acara dimulai sekitar 16.00 WIB di asrama putri PA Riyaadlul Jannah. Dalam acara tersebut dr Arkhaesi memberikan materi ceramah kesehatan tentang Demam Berdarah Dangue (DBD). Beliau memaparkan mulai dari sebaran penyakit, penyebab, gejala, jalan penyakit sampai penangan dan pencegahan. Ternyata pengetahuan yang selama ini berkembang di masyarakat banyak terdapat misconception (konsep yang keliru) tentang DBD. Dimana pengetahuan dulu tentang DBD adalah terjadi pada anak, kalau terjadi perdarahan akan mengalami kematian, penyakit berbahaya. Ternyata bisa terjadi pada semua usia, yang menyebabkan kematian bukan perdarahannya melainkan syok yang terjadi akibat kebocoran plasma, dan DBD termasuk kedalam golongan Self Limiting Disease (penyakit yang bisa sembuh sendiri) sesuai dengan tahapan perjalanan penyakit. Dimana diawali dengan demam akut skitar 3 hari, kemudian demam turun pada hari ke 4-6 justru yang paling berbahaya pada fase ini terjadi kebocoran plasma yang menyebabkan syok, dan dilanjutkan proses penyembuhan mulai hari ke 7 dimana trombosit akan kembali naik.
Selain itu beliau menjelaskan bagaimana virus dangue menular ke manusia, yaitu melalui vector (perantara) nyamuk Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus betina dengan ciri hidup di air jernih, dalam tubuhnya terdapat bintik-bintik, saat menusuk posisi tubuh datar. Pencegahan DBD biasa dikenal 3M Plus : Menguras bak mandi, Menutup bak mandi, Mengubur barang bekas, Menghindari gigitan nyamuk.

Dalam kesempatan tersebut ada penyerahan hadiah untuk anak-anak asuh kami yang semester kemaren mendapat ranking 5 besar dikelasnya.

Senin, 14 Oktober 2013

Penyuluhan Kesehatan bersama dr H Gunadi, M.Kes

Kesehatan mahal harganya. Itulah kata yang sering kita dengar mengenai kesehatan. Memang benar, karena dengan kesehatan kita bisa melakukan aktivitas yang kita inginkan. Sehingga kita harus menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Tak terkecuali anak-anak kami di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah. Kami ada program peningkatan status kesehatan anak. Yaitu dengan mengadakan penyuluhan kesehatan rutin dengan beberapa konsultan kesehatan kami.
Minggu kemarin (6/10), ada penyuluhan kesehatan bersama dr H Gunadi, M.Kes di asrama panti, yang membahas tentang penyakit-penyakit musim kemarau. Dimana beliau menjelaskan penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai di musim yang tak menentu ini serta solusi agar kita tidak terkena penyakit tersebut. Beberapa penyakit yang sering diantaranya penyakit saluran pencernaan, saluran pernafasan, penyakit kulit, penyakit mata, infeksi virus. dimana sebagian besar diakibatkan karena kondisi lingkungan.
Oleh karena itu cara menghindarinya dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar, banyak minum air, konsumsi buah dan sayur.

Sabtu, 14 September 2013

Mengembangkan Potensi Anak Melalui Pentas Kreasi

Pentas Kreasi, salah satu program kegiatan kami untuk mengembangkan potensi anak. Kegiatan ini sudah berjalan beberapa tahun yaitu berupa kegiatan pementasan sekelompok anak yang dijadwal setiap minggunya. Dimana tiap anak memiliki peran disana. ada yang menjadi MC, Pembaca tilawah, pidato, baca puisi, penampilan kreasi yang lainnya.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi, mental keberanian, kerjasama, kreativitas anak. Alhamdulillah dengan kegiatan ini anak-anak semakin berani tampil di depan umum. Setiap pertemuan pengurus mulai di pimpin oleh anak-anak (MC dan pembaca tilawah). Bahkan ada beberapa anak kami meraih prestasi dalam bidang pidato, yaitu Juara I Pidato Bahasa Jawa oleh Indah Nur Cahyani, Juara I Story Telling oleh M Khirul Anam dan Juara III Story Telling dalam peringatan Hari Anak Se Kota Semarang tahun 2012. Sehingga kegiatan ini terus kami kembangkan untuk selalu memacu anak untuk berkreasi secara positif.

Sabtu, 07 September 2013

Setiap Penyakit Ada Obatnya


“Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah SWT” ( HR. Muslim)
Demikian pernyataan Rasulullah seperti juga janjinya yang telah terbukti tentang jatuhnya konstantinopel. Banyak diantara kita yang bertanya-tanya dan berharap-cemas siapa gerangan komandan pasukan yang mampu menaklukkan Roma kota berikutnya setelah penaklukan Muhammad Al-Fatih terhadap Konstantinopel.
Entah adakah yang bertanya-tanya siapa yang akan merealisasikan hadits Rasul di atas, bahwa setiap penyakit ada obatnya, adakah diantara kita yang bersegera menyambut tantangan ini ?
Aktivitas penelitian untuk mencari obat suatu penyakit nyata adalah bagian dari tanggung jawab umat Islam. Tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan keseriusan setara dengan upaya dakwah di bidang lainnya, sampai jelas benar kemahakuasaan Allah yang Menghidupkan dan Mematikan makhluknya bila telah tiba di penghujung usia. Setelah itu terbukalah mata manusia, dan tidak ada lagi alasan kecuali beriman dengan sebenar-benar iman.
“Ketika obat bertemu penyakit” tidaklah berbeda dengan ketika ligan bertemu reseptornya secara kompetitif dengan mekanisme Lock & Key, atau saat Sel T CD8 bertemu sel APC, atau Histon asetilase terhadap Histon H3K4.  Disana ada hukum sebab-akibat yang bekerja terkadang terjadi secara kasat mata tapi lebih sering hanya dapat dipantau aktivitas dan hasilnya, dengan izin Allah terjadi mekanisme sunnatullah yang mungkin sekali belum pernah kita fikirkan kecuali kita mau mentadabburi diri kita sendiri dengan tekhnik-tekhnik biologi molekuler dan genetika terkini.
Pada tahun 2006 sekelompok peneliti di Universits Kyoto menemukan bahwa mereka dapat memprogram ulang sel dewasa yang telah terdiferensiasi menjadi sel punca yang mirip sekali dengan karakter sel punca embrional. Tekhnologi sel punca amat dibutuhkan untuk merealisasikan mimpi kedokteran regeneratif, terobosan telah dilakukan, problem etika dan reaksi penolakan host dapat dilewati. Sekarang terbuka lapangan luas untuk mencari obat dan tehnik pengobatan yang saat ini masih mimpi, mengobati penyakit-penyakit genetika, familial, Diabetes, Stroke, Parkinson, dan lain-lain. Mimpi itu saat ini terasa amat realistis, menemukan obat untuk setiap penyakit kecuali mungkin untuk Tua dan Kematian.
Dimana umat Islam dan khususnya para aktivits dakwah dalam perlombaan global ini? Perlombaan yang sejatinya tidak lain adalah pembuktian bahwa tiap-tiap penyakit ada obatnya. Dimana kita kalau hari ini masih mempercayai klaim tanpa bukti sahih, tidak peduli mekanisme kerja dan sebab-akibat, abai terhadap kriteria nilai thayyib zat yang dikonsumsi. Pengobatan ala Nabi bagi saya adalah ketika benar-benar suatu single compound bertemu dengan target molekulnya. Takdir kesembuhan adalah terpenuhinya sebab hingga tampak akibatnya, izin Allah tidak lain adalah sunnatullah-Nya yang menunggu untuk kita singkap dan pelajari rahasianya.
Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada, dari jamu, ramuan, atau minyak-minyak itu? Mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target molekulnya, mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai didapatkan satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Pasti tidak terfikir karena kacamatanya sudah terburu-buru menghitung nilai potensial pasar yang ada, pangkal masalahnya pada fikiran pendek.
Pekerjaan 10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa seperti perbuatan bodoh, kalau materi ukurannya, untuk apa bersusah payah kalau dalam 1-2 tahun saja bisa laku keras mendompleng ghirah? Padahal efek samping tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan, sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek terapinya pun belum reproducible.
Jadi kawan, maksud saya, ini ada ladang baru buat para aktivis yang keleleran, potensi besarnya tergerus materi setiap hari, ghirahnya melemah karena berkubang di kolam. Kenapa tidak kirim dia untuk ribath ke perbatasan ilmu, agar berkesempatan mencicipi pahala para pioneer. Ladang ini masih liar bagi kita, asing alam dan adat kebiasaanya, unik kendaraan dan senjatanya, amat deras arus sungai dan debur ombaknya.
Tapi bukankah untuk ini memang sebenarnya kita berdiri, berbaris dan beramal?
Oleh: dr. Indra Kusuma
www.fimadani.com

Pantaskah kita Mengeluh ?


“Huh, lagi-lagi begini. Kapan sih aku hidup bahagia?”
Mungkin tak sedikit dari kita yang suka mengeluhkan cobaan yang datang dari Allah. Tidak mau bersabar dengan bentuk ujian dari Allah bahkan sampai menyalahkan takdir Allah serta tidak mengakui nikmat yang Allah berikan. Orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia pernah merasakan kebahagiaan namun mengingkarinya seperti kalimat pembuka di atas.
Untuk belajar bagaimana makna kesabaran ada baiknya kita menyimak kisah dari sahabat mulia Ammar bin Yasir radhiyallahuanhuma. Siapa tak mengenal Ammar bin Yasir? Beliau adalah salah satu imam besar dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama kali masuk islam.
Ayahnya bernama Yasir bin Amir  dan Ibunya bernama Sumayyah binti Kubbath. Ayah dan Ibunya adalah orang pertama dan kedua yang menjemput kesyahidan ketika mempertahankan keimanan mereka karena siksaan kafir Quraisy. Kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dari mereka mungkin tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang di zaman para sahabat apalagi umat Islam pada zaman sekarang ini.
Semenjak keislamannya diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, keluarga Amar bin Yasir tak luput dari penganiayaan dan penyiksaan. Mereka diseret keluar menuju tanah lapang oleh kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal di siang hari yang panas dan menyengat. Mereka disiksa dicambuk hingga punggung mereka berdarah-darah. Lebih dari itu mereka disiksa dengan besi panas ditempelkan ke dadanya. Hingga sang ayah, Yasir bin Amir menjemput kesyahidan dalam siksaan tersebut. Sedangkan ibunya Sumayyah binti Kubbath ditusuk  oleh Abu Jahal pada kemaluannya dengan tombak hingga meninggal dunia.
Setelah itu kaum musyrikin tak henti-hentinya menyiksa Ammar dengan menjemurnya, meletakan batu besar panas di atas dadanya hingga penderitaan yang amat sangat dan hilang kesadaran akalnya. Kala itu mereka berkata kepadanya, “Kami akan terus menyiksamu  hingga engkau mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap Lata dan Uzza”. Maka, dia pun dengan terpaksa menyetujui hal tersebut. Setelah kejadian itu, dia mendatangi Rasulullah SAW sambil menangis dan meminta maaf atas hal tersebut kepada beliau. Ketika itu turunlah ayat;
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pada hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)..” (QS. An-Nahl : 106)
Diriwayatkan dari Utsman, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bersabarlah seperti kesabaran keluarga Yasir, karena yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”
Apakah kita pantas mengeluh kepada Allah atas musibah yang menimpa kita, yang jauh lebih ringan dibandingkan penderitaan dan siksaan yang pernah dialami oleh keluarga Ammar bin Yasir? Bahkan sebagian dari saudara kita yang  mengaku kaum muslimin justru ketika mengalami kesusahan mereka mendatangi dukun-dukun, meminta jimat-jimat yang sama sekali tidak akan mendatangkan manfaat bagi mereka.
Ketika kita menerima sebuah ujian dan cobaan hidup hendaklah kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan senantiasa bersabar menjalaninya. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan yg melebihi kekuatan hambaNya.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al Insyiroh ayat 6-7)
Apabila kita sedang dilanda kesulitan dan kegelisahan maka kita dianjurkan memperbanyak doa seperti yang diajarkan oleh Rosulullah SAW berdasarkan hadits berikut
Rasulullah SAW memperbanyak do’a: “Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalas-an, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Al-Bukhari).

sumber : http://www.fimadani.com/

Ceramah Dari Konsultan Bidang Kesehatan Ibu dr. Hj. Nahwa Arkhaesi, M,Si, Med, Sp.A Di LKSA Riyaadlul Jannah

Ahad, 10 Desember 2023 pengurus dan pengasuh LKSA Riyaadlul Jannah mengadakan pertemuan bulanan yang sudah lama berhenti. Kegiatan tersebu...